MCMNEWS.ID | Rumah seorang kekaisaran Jepang Laksamana Maeda yang dijadikan tempat untuk merumuskan dan menulis naskah proklamasi. Dok: Kemendikbud
Maeda tidak menolak, ia mempersilakan mereka untuk memakai ruang makan keluarga di lantai satu sebagai lokasi rapat. Sebagai salah satu petinggi militer Kekaisaran Jepang, kediaman Maeda memiliki imunitas khusus dan tidak akan dirazia Kempetai atau Polisi Militer Jepang.
Dalam buku Kilas Balik Evolusi karya Abu Bakar Loebis diceritakan bahwa di tempat inilah para tokoh kemerdekaan melakukan rapat maraton hingga menjelang subuh. Hatta bersama Soebardjo menyampaikan pemikiran secara lisan dan Soekarno bertindak sebagai penulis konsep naskah proklamasi pada secarik kertas. Pada beberapa bagian tulisan tangan Soekarno di kertas tersebut terdapat bagian kata yang kemudian dicoret.
Sukarni, Sudiro, dan Burhanuddin Mohammad Diah adalah sejumlah nama mewakili golongan muda yang ikut menunggu di luar ruang makan. Sedangkan Maeda tak kuasa menahan kantuk dan memilih pamit tidur terlebih dahulu saat waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB. Ia meminta semua yang hadir untuk meneruskan rapat hingga selesai.
Maeda juga meminta penerjemah Sunkichiro Miyoshi, kemudian ajudannya, Shigetada Nishijima, dan Tomegoro Yoshizumi untuk menemani Soebardjo dan kawan-kawan rapat. Tak lupa Maeda berpesan kepada asisten rumah tangga dan satu-satunya perempuan malam itu, Satsuki Mishima, memasakkan santap sahur bagi peserta rapat. Saat itu seluruh umat Islam di Indonesia sedang menjalankan ibadah puasa hari ke-9 di Ramadan 1364 Hijriah.
Dalam tulisan Dorothea Rini Yunarti dalam BPUPKI, PPKI, Proklamasi Kemerdekaan RI, Mishima memasakkan nasi goreng dengan lauk telur dadar dan ikan sarden.
Setelah konsep (klad) naskah proklamasi disetujui, rumusan itu harus diketik terlebih dulu sebelum diajukan kepada para anggota PPKI dan lainnya yang menunggu di ruang tengah. Soekarno menyuruh orang kepercayaannya Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi dengan rapi. Sayangnya mesin ketik di sana berhuruf hiragana dan bukan latin.
Mishima pun berinisiatif. Menembus udara dingin menjelang subuh di Menteng dengan memakai jipnya, ia pergi ke kantor perwakilan Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) di Gedung Koninklike Paaketvard Mastchappij (KPM). Begitu tiba di kantor yang berada di kawasan Koningsplein Oost (Jalan Medan Merdeka Timur), asisten rumah tangga cekatan ini langsung meminjam Oriental, mesin ketik milik komandan kapal perang Jerman, Mayor Laut Hermann Kandeler.
Sayuti Melik pun selesai merapikan naskah untuk diperlihatkan kepada Soekarno. Ada sedikit perdebatan antara Soekarno dan Sukarni yang juga hadir sebagai saksi mewakili golongan muda. Soekarni, menyarankan agar Bung Besar, sapaan Soekarno, membacakan ikrar kemerdekaan itu di tempat terbuka yaitu Lapangan Ikada. Soekarno menolak usulan itu dan mengatakan pembacaan proklamasi akan digelar di halaman depan rumahnya di Pegangsaan Timur nomor 56, sekitar 2 kilometer dari rumah Maeda.