MCMNEWS.ID | Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangsel, Wanto Sugito. Dok: instagram @wantosugito05
Pria yang juga Ketua Umum Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) itupun menyebut, DPC PDI Perjuangan Kota Tangsel akan melakukan penghormatan kepada korban dalam peristiwa Kudatuli.
“Dalam rangka menindaklanjuti instruksi DPP Partai untuk melakukan penghormatan kepada Kader PDI Perjuangan yang telah menjadi korban atas peristiwa Kudatuli pada tahun 1996 silam, kita disini akan melaksanakan pengajian dan tahlil untuk lima orang meninggal, 149 mengalami luka-luka, dan 23 orang hilang sebagai upaya mendoakan agar para kader Partai yang wafat disaat peristiwa tersebut menerima tempat yang layak disisi Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.
“Agar 26 tahun berlalu, pengorbanan sejumlah elemen masyarakat dalam memperjuangkan demokrasi kala itu kini dapat dinikmati banyak pihak. Banyak petani punya anak jadi pejabat. Anak supir angkot jadi jenderal dan sebagainya. Kisah-kisah itu bikin haru. Sebuah berkah karena hari ini kita bisa menikmati kebebasan tersebut. Dan sekali lagi itu tidak gratis. Tidak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan,” pungkasnya.
Sejarah Singkat Peristiwa KUDATULI
Dirangkum dari berbagai sumber, peristiwa Kudatuli disebut-sebut sebagai tonggak perjuangan demokrasi sebelum kekuasaan tirani dan korup dari pada Soeharto tumbang.
Peristiwa Kudatuli adalah titik kulminasi keputusasaan rezim Soeharto yang tidak menginginkan Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri (Megawati Soekarnoputri) – Putri tertua mendiang Presiden Soekarno muncul di pentas politik nasional.
Karena Megawati dianggap pengganggu stabilitas kekuasaan Soeharto dan konco-konconya yang telah lama bercokol sejak Bung Karno diturunkan pada tahun 1966. Serangkaian skenario politik telah dijalankan aparat-aparat Orde Baru untuk menjegal Megawati dan PDI, partai politik yang semula hanya dijadikan oleh rezim Soeharto sebagai aksesoris demokrasi bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Baca juga: Pengamat: PDIP Punya Obsesi Untuk Menang Hatrick Presiden dan Legislatif
Disetiap pemilu yang digelar Orde Baru, sengaja PDI dan PPP tidak pernah diberi kesempatan menang karena memang Golkar dibuat harus selalu menang. Sebuah lawakan politik ala demokrasi yang dijalankan Soeharto.
Lanjut membaca ke halaman berikutnya