MCMNEWS.ID | Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangsel, Wanto Sugito. Dok: instagram @wantosugito05
MCMNEWS.ID – Tanggal 27 Juli merupakan salah satu tanggal yang bersejarah bagi seluruh kader PDI Perjuangan di Indonesia. Pasalnya, 26 tahun lalu, pada tanggal tersebut terjadi peristiwa yang dikenal dengan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli).
Kudatuli merupakan peristiwa penyerangan kantor DPP PDI. Saat itu, massa dari pendukung dari Ketua Umum PDI versi Kongres di Medan, Soerjadi, berusaha mengambil alih secara paksa kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58, Menteng, Jakarta Pusat, yang saat itu dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri.
Dalam momentum peringatan 26 tahun peristiwa Kudatuli, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Wanto Sugito, menyebut, seluruh kader PDI Perjuangan harus selalu mengingat sejarah bahwa pemerintahan seyogyanya dibangun untuk kepentingan masyarakat.
“Karena itulah, sejarah selalu mengajarkan bagaimana kita belajar terhadap masa lalu. Bagaimana kita belajar bahwa pemerintahan yang otoriter tidak akan tahan lama. Bagaimana pemerintahan itu seharusnya dibangun oleh kekuatan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat,” kata Wanto Sugito, kepada MCMNEWS.ID, Rabu, (27/7/2022).
Menurut Wanto, sebagai Partai Demokrasi yang sah dan diakui UU pada waktu itu, ada upaya skenario dari pemerintah untuk membendung kekuatan arus bawah. Kekuatan arus bawah tidak bisa ditahan oleh rezim otoriter Orde Baru.
“Kudatuli adalah peristiwa sejarah yang mengajarkan bahwa pemerintahan yang otoriter tidak akan tahan lama,” tutur Wanto.
Baca juga: Pasang Target Tinggi di 2024, PDI Perjuangan Tangsel Genjot Kader Kuasai Ideologi Partai
“Karena itulah Ibu Mega menyampaikan pesan pada peringatan 26 Kudatuli tahun ini, mengingatkan agar semua kader PDI Perjuangan harus turun kebawah, menyatu dengan kekuatan rakyat, menangis dan tertawa Bersama rakyat, itu sejati-jatinya memahami hakekat paling dasar kekuasaan politik itu berasal dari rakyat,” tegasnya.
Lanjut membaca ke halaman berikutnya