MCMNEWS.ID – Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menilai kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merupakan bentuk tekanan agar negara mitra dagang mau bernegosiasi. Hal itu dilandasi lantaran AS masih ingin bernegosiasi dengan negara mitra dagang meski telah menaikan tarif impor.
“Kan dia bilang, masih terbuka negosiasi. Sebenarnya ini pressure untuk negosiasi. Sama dengan anda beli sesuatu, kasih dulu harga tinggi baru berunding. Jadi ini angka-angka pressure,” terang JK kepada wartawan, Sabtu (5/4/2025).
Menurut JK, dalam menetapkan tarif impor ini, Trump cenderung emosional atau ada unsur politik yang tinggi kepada negara.
Sebab itu, JK menilai, Pemerintah Indonesia bisa negosiasi dan mengklarifikasi klaim AS terkait Indonesia memberlakukan tarif sebesar 64% kepada produk impor. Besaran tarif itu, menjadi dasar Presiden AS Donald Trump menaikan tarif resiprokal sebesar 32% ke Indonesia.
“Angka apa itu? Dari mana angka itu? Jadi pressure saja. Tapi biasa saja,” terang JK.
JK juga menilai, penetapan tarif timbal balik ini tak akan mengganggu kegiatan impor Indonesia ke Amerika Serikat. Dia optimis, masyarakat Amerika tetap akan membeli barang-barang dari Indonesia karena memang menjadi kebutuhan harian; mulai dari sepatu, pakaian, sabun, hingga bahan dasar seperti minyak kelapa sawit.
Sehingga, wakil presiden dua periode tersebut menilai, posisi Indonesia sebagai eksportir komoditas tetap strategis.