MCMNEWS.ID | Skuad Tim Nasional Indonesia pada kualifikasi Piala Dunia 1958. Dok: istimewa
MCMNEWS.ID – Sejarah mencatat Indonesia pernah berpeluang lolos ke putaran final Piala Dunia 1958 di Swedia. Kemenangan atas Cina dalam partai perdana babak kualifikasi Asia pada 12 Mei 1957 membuka lebar peluang Indonesia lolos ke babak selanjutnya.
Sebelumnya, Indonesia memang pernah mencecap Piala Dunia 1938, tapi waktu itu masih bernama Hindia-Belanda. Sejak Indonesia meraih kemerdekaan hingga sekarang, tampil di Piala Dunia masih menjadi mimpi di siang bolong.
Namun pada tahun 1958, mimpi itu hampir terwujud. Targetnya adalah melaju Piala Dunia 1958 yang digelar di Swedia dan Indonesia memang berada dalam momentum bagus.
Waktu itu, di era 1950-an, Indonesia adalah salah satu negara yang disegani di Asia. Tim Merah Putih berjaya dalam sejumlah laga persahabatan melawan negara-negara Asia. Indonesia juga diperkuat beberapa pemain legendaris seperti Maulwi Saelan, Ramang dan Tan Lion Hou. Tak heran, julukan Macan Asia tersemat kepada mereka.
Setelah finis keempat di Asian Games 1954, Indonesia tampil di Olimpiade Melbourne 1956, lalu berlanjut di Kualifikasi Piala Dunia 1958 zona Asia-Afrika. Ini jadi ajang Kualifikasi Piala Dunia pertama bagi Indonesia sejak merdeka pada 1945.
Tim Garuda melaju mulus di babak prakualifikasi setelah menang walk out (WO) atas Taiwan. Indonesia yang dilatih oleh pelatih legendaris Toni Pogacnik lantas maju ke babak kualifikasi putaran pertama dan tergabung di Grup 1 bersama Tiongkok saja setelah Australia memilih mundur.
Pada 12 Mei 1957, dilangsungkanlah duel pertama melawan Tiongkok di Stadion Ikada (sekarang Lapangan Monas), Jakarta dan disaksikan 80 ribu penonton. Ini adalah pertemuan pertama kedua tim di level internasional.
Ramang memborong dua gol dan Indonesia menang 2-0. Dalam sebuah berita, salah satu gol mantan pemain PSM Makassar itu dicetak lewat tendangan salto yang sangat indah. Kemenangan ini membuka lebar peluang Indonesia lolos ke babak selanjutnya.
Sebulan berselang, Tiongkok menebus kekalahannya dari Indonesia dalam pertemuan kedua di Xiannongtan Stadium, Beijing. Lewat pertarungan sengit, Tiongkok mampu menundukkan Indonesia dengan skor tipis 4-3, dengan Ramang lagi-lagi mengemas dua gol.
Karena sama-sama menang, laga play-off terpaksa digelar lagi di tempat netral. Pertandingan yang berlangsung di Yangon, Burma (Myanmar) tersebut berakhir imbang tanpa gol hingga perpanjangan waktu. Waktu itu belum diperkenalkan adu penalti. Indonesia pun berhak lolos berkat selisih gol yang lebih baik ketimbang Cina.
Kemudian, Indonesia tergabung bersama Israel, Sudan dan Mesir di babak selanjutnya. Masalah muncul setelah Indonesia masih menolak mengakui kedaulatan negara Israel dan enggan bertanding di markas mereka. Hal tersebut dianggap sebagai pengakuan terhadap kedaulatan negara Israel.
Indonesia menolak bertanding di markas Israel karena hal tersebut dianggap sebagai pengakuan terhadap kedaulatan negara Israel. Berbagai langkah sudah ditempuh, seperti mengirimkan surat permohonan kepada FIFA agar laga kontra Israel dilangsungkan di tempat netral. Namun, FIFA menolak permohonan itu sehingga Indonesia memilih mundur.
“Indonesia yang secara politik sedang getol-getolnya mengumandangkan perlawanan terhadap neokolonialisme, menganggap Israel sebagai penjajah rakyat Palestina dan karena itu, menolak bertanding di Israel,” tulis Owen A. McBall dalam bukunya, Football Villains, seperti dikutip Historia.
Israel pada akhirnya batal berangkat ke Swedia. FIFA melarang sebuah tim lolos ke Piala Dunia tanpa bertanding dan lantas mencarikan lawan tanding Israel. Setelah Belgia dan Turki keberatan, dipilihlah Wales yang tak lolos dari zona Eropa tapi punya poin tinggi. Wales unggul agregat 4-0 atas Israel dan melaju ke putaran Piala Dunia 1958 untuk pertama kali.
Indonesia sendiri memutuskan untuk vakum sementara dari kualifikasi Piala Dunia karena situasi politik di dalam maupun luar negeri dan baru kembali berlaga lagi di kualifikasi Piala Dunia pada 1974.
Laporan: Irfan Kurniawan