Sosial media menjadi alat efektif untuk mempromosikan barang di era digital saat ini. Tak perlu punya toko atau keluarkan dana besar untuk promosi. Cukup posting produk di internet, e-commerce dan sosial media, maka produk laris manis.
Hal ini diutarakan Fajar Sulihtiawan selaku Praktisi Usaha Kecil Menengah UMKM dan Sosmed dalam diskusi Bakti Kominfo melaksanakan Seminar Merajut Nusantara bertemakan “Pemanfaatan TIK Untuk Pendidikan dan Bisnis”, Sabtu (12/06/2021).
“Kita sebagai UMKM mikirin modal saja kadang susah, jadi konten-konten receh, konten-konten yang mungkin gampang untuk di cerna, gampang untuk diingat to the point sama masyarakat itu lebih disukai saat ini,” ujarnya.
Fajar menjelaskan, sejumlah sosial media seperti seperti Facebook, YouTube, Instagram, TikTok menjadi sara yang gemari pasar, terutama generasi muda.
“Anak muda di di Indonesia kebanyakan di TikTok dan di Instagram setahu saya, kalau Facebook, YouTube itu lebih ke general, banyak yang mengikuti, banyak yang memakai cuman untuk saat ini saya lebih cenderung pakai Instagram dan TikTok,” jelasnya.
Mempromosikan lewat Instagram, lanjut Fajar, di platform dapat menyebarkan produk tanpa harus saling berteman terlebih dahulu. Sedangkan jika Facebook harus berteman dulu, dan jika YouTube harus subscribe dulu.
“Di Instagram kita bisa pakai video untuk 10 detik, 15 detik penyampaiannya lebih to the point, TikTok juga kayak gitu, data saat ini memang pengguna YouTube yang paling banyak, namun menurut saya Instagram dan TikTok itu lebih mudah digunakan untuk UMKM,” jelasnya lagi.
Ada beberapa poin yang perlu diperhatikan saat promosi di Instagram dan TikTok. Fajar menjelaskan, desain konten memang harus menarik dengan voice over yang bagus untuk menyampaikan pesan didengar. .
“Tapi gak usah konten yang terlalu berat, yang mudah dicerna. Harus juga punya resep yang benar-benar luar biasa biar viral. Kalau kita jual teh dalam gelas di warung mungkin 3000-4000, kita bisa jual dengan harga Rp. 9.000 bagaimana caranya, kita tata kontennya, kita tata kemasannya, di tata juga identitasnya, baru kita kombinasikan,” jelasnya.
Pada seminar yang sama, Anggota Komisi I DPR-RI, A. Rizki Sadiq segmen anak muda bisa menjadi sasaran produk bisnis. Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik di tahun 2019 sampai dengan 2025 akan tumbuh hampir 60% komunitas anak muda dari 270 juta rakyat
“Perkembangan teknologi dan tidak mungkin mundur, ini akan maju ke depan. Dulu kalau mau belanja ke supermarket atau ke pasar biasanya membawa dompet, hari ini tidak perlu membawa dompet dan pernah membawa kartu debit cukup menempelkan, sekarang hanya cukup bawa gadget semuanya ada di situ selama saldonya ada.”
“Belum lagi saat ini ada digital currency atau yang sering disebut cryptocurrency, memang itu masih debatable belum menjadi perbincangan di dunia, tapi lambat laun itu tidak bisa dihindari pada akhirnya akan berhubungan dengan dunia internasional tanpa terikat,” jelas Ahmad Rizki Sadiq.
Ismail Cawidu selaku Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ikut menambahkan bahwa salah satu yang terpenting menghadapi era digital adalah soal pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
“Presiden sudah memerintahkan untuk mempercepat transformasi digital yaitu perintahnya lakukan percepatan perluasan akses dan peningkatan infrastruktur, persiapkan roadmap-nya, percepat integrasi pusat datanya, siapkan skema-skema regulasinya.”
Tugas pemerintah adalah insfrastruktur. Sedangkan masyarakat harus memaksimalkan handphone dengan segala kreativitas yang ada, baik untuk bisnis maupun pendidikan,” tutupnya.