“Kalau kita tidak menaikkan BBM, kalau tidak dilakukan apa apa, tidak ada pembatasan, tidak ada apa-apa maka Rp 502 triliun gak akan cukup,” kata Sri Mulyani di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Mantan direktur bank dunia itu kembali menekankan bahwa ada komoditas lain yang juga penting untuk diperhatikan yaitu elpiji dan listrik.Subsidi dan kompensasi energi yang sudah ditetapkan sesuai Perpres nomor 98 adalah sebesar Rp 502 triliun.
Sri mulyani menjelaskan kebutuhan tambahan subsidi itu didasarkan pada proyeksi konsumsi Pertalite dan Solar sampai akhir tahun.
“Artinya, Rp 502 triliun itu dihitung dengan asumsi sesuai dengan APBN yaitu volumenya 23 juta kiloliter. Harganya (asumsi harga ICP) US$ 100, kursnya 14.450 (rupiah per dolar AS),” ucap Sri Mulyani.
“Maka kita perkirakan subsidi itu harus nambah lagi, bahkan bisa mencapai Rp198 triliun, itu di luar Rp502 triliun. Nambah kalau kita tidak menaikkan harga BBM,” pungkas Sri Mulyani.