MCMNEWS.ID – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi perbincangan hangat setelah menyentuh level Rp17.529 pada penutupan perdagangan Selasa (12/5/2026).
Angka ini tercatat melampaui titik terendah masa pandemi Covid-19, sebuah situasi yang memicu diskusi mengenai daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang kian dinamis.
Meski angka tersebut tampak mencemaskan secara nominal, para ahli ekonomi sepakat bahwa Indonesia hari ini berada dalam kondisi yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan krisis moneter 1998.
Struktur ekonomi yang lebih stabil dan perbankan yang sehat menjadi tameng utama bagi “Mata Uang Garuda”.
Bukan Replikasi Krisis 1998
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa meskipun pelemahan ini wajib diwaspadai, Indonesia belum masuk ke dalam fase krisis sistemik. Kepercayaan diri ini muncul karena parameter makroekonomi saat ini masih menunjukkan tren positif.
“Pelemahan rupiah jelas memberi tekanan besar, namun kondisi fundamental Indonesia masih jauh lebih baik dibanding era krisis: cadangan devisa masih relatif kuat, inflasi terkendali, perbankan stabil, dan pertumbuhan ekonomi masih positif,” jelas Lukman.
Senada dengan hal tersebut, Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengakui level Rp17.500 merupakan “alarm serius”, namun konteksnya tidak bisa disamakan dengan peristiwa 28 tahun silam.
“Kurs mengambang, cadangan devisa masih relatif besar, sektor perbankan lebih sehat, dan korporasi besar sudah lebih disiplin melakukan hedging,” papar Yusuf.
Pelemahan kurs memang menjadi tantangan berat bagi sektor yang bergantung pada bahan baku luar negeri. Industri farmasi, manufaktur, otomotif, hingga penerbangan harus memutar otak menghadapi kenaikan biaya produksi dan operasional.
Namun, di sisi lain, fenomena ini justru menjadi “angin segar” bagi sektor-sektor berbasis ekspor.
Para eksportir komoditas unggulan seperti batu bara dan kelapa sawit (CPO) berpotensi meraup keuntungan lebih karena transaksi mereka berbasis Dolar AS.
“Di sisi lain, sektor berbasis ekspor cenderung lebih tahan, bahkan sebagian diuntungkan, karena pendapatan mereka diterima dalam dolar AS,” tambah Lukman.
Langkah Strategis Menuju Stabilitas
Para ahli menyarankan agar Bank Indonesia (BI) tetap konsisten melakukan intervensi pasar untuk menjaga kepercayaan investor. Selain itu, disiplin fiskal dari pemerintah dianggap krusial untuk meredam kekhawatiran pasar terkait kebijakan ekonomi nasional.
Yusuf Rendy mengingatkan bahwa tekanan global saat ini sebenarnya mengekspos tantangan domestik yang perlu segera dibenahi, seperti ketergantungan pada impor energi.
“Tekanan global sebenarnya hanya membuka kelemahan domestik yang memang belum selesai,” ujarnya.
Dalam jangka panjang, penguatan fundamental Rupiah akan bergantung pada kemampuan Indonesia mengurangi ketergantungan impor dan memperbesar arus investasi asing langsung (FDI).
Dengan cadangan devisa yang masih mumpuni, Indonesia memiliki ruang napas yang cukup untuk menavigasi gejolak nilai tukar ini tanpa harus terperosok ke dalam krisis yang dalam.