Anggota Komisi I DPR Rizki Sadig menilai teknologi mengubah cara orang mendapatkan pekerjaan. Dulu orang yang mau bekerja harus melamar pekerjaan. Generasi milenial dan generasi Z justru membuka lapangan pekerjaan.
“Manusia generasi milenial dan generasi Z banyak cara mereka mendapatkan pekerjaan yang dulu harus melamar kerja, tetapi sekarang sangat dimungkinkan semua membuat pekerjaan dan membuka lapangan pekerjaan,” kata Rizki seminar BAKTI Kominfo yang bertemakan “Pemanfaatan TIK untuk Pendidikan dan Bisnis”, Selasa 15 Juni 2021.
Ia menjelaskan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi secara signifikan memberikan nilai tambah bagi perusahaan atau korporasi. Beberapa contoh buat generasi sekarang itu mulai milenial sampai generasi Z menjadi influencer.
“Hanya bermodal kamera HP bisa dapat duit, hanya modal selfie bisa dapat duit, mungkin saat menunggu panggilan kerja, mau memulai itu sebagai sampingan atau nanti kalau memang berhasil bisa menjadi utama itu kan yang bagus, jadi kalau saya menyarankan jangan melulu berharap atas lowongan kerjaan,” katanya.
Menurutnya, sebaiknya memang menciptakan pekerjaan yang bermanfaat buat orang lain. Begitu pun jika bisnis tidak memberikan pelayanan berbasis teknologi maka akan ditinggal pelanggan.
“Modal tenaga untuk memasarkan produk yaitu ada facebook dan marketplace, facebook group untuk jual beli, postingan marketplace seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, SEO Google dan manfaatkan media sosial seperti Facebook, Instagram, Website sebagai etalase produk,” katanya.
Rizki Sadig juga menyoroti tentang kerap sulitnya lulusan dari sekolah atau perguruan tinggi mendapat pekerjaan. Menurutnya, ada sejumlah faktor terkait hal itu, dan salah satunya adalah pengaruh dari orang tua.
“Motivasi orang tua sangat berpengaruh. Dan kadang motivasi dari sisi orang tua justru menjadi batu sandungan, karena sebagian orang tua menginginkan anaknya mendapatkan jalan pintas, tanpa mengajarkan mental yang gigih dan punya daya saing. Jangan sampai memberi standar anak terlalu tinggi tanpa melihat atau mengukur kapasitas anak,” ujar Sadig.
Sadig menuturkan, para orang tua seharusnya tahu sang anak inginnya seperti apa. Karena di era seperti saat ini, bekerja tidak hanya melulu di sebuah perusahaan.
“Orang tua harus tahu, anaknya ingin menjadi pegawai atau menjadi pengusaha. Jadi pengusaha tidak ada yang salah, yang penting mendapatkan penghasilan. Jangan sampai anak tidak bekerja keras, karena disayangkan sekali kalau memang ada orang yang tidak bekerja dia beralasan, saya sudah melamar pekerjaan di mana-mana dan belum ada yang mau nerima, harusnya bukan menyalahkan lowongannya, pekerjaannya atau perusahaannya, tapi harus introspeksi diri apa yang kurang dari dirinya,” jelas Sadig.
Manusia generasi milenial dan generasi Z, menurut Sadig, banyak cara bagi mereka mendapatkan pekerjaan. Beberapa tahun lalu harus melamar kerja di sebuah perusahaan, tetapi sekarang sangat dimungkinkan semua orang membuat pekerjaan dan membuka lapangan pekerjaan.