MCMNEWS.ID | Parade Alutsista TNI. Dok: istimewa
MCMNEWS.ID – Corporate Secretary PT. Teknogi Militer Indonesia (TMI), Wicaksono Aji, menyebut, bahwa PT. TMI tidak ditugaskan untuk pembelian atau pengadaan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam).
Hal itu dikatakan Wicaksono menanggapi pemberitaan tentang keterlibatan PT. TMI di pengadaan Alpalhankam oleh Kementerian Pertahanan.
“Perlu diketahui bahwa tidak ada satu kontrakpun dari Kementerian Pertahanan ke PT.TMI, PT.TMI tidak ditugaskan untuk pembelian atau pengadaan Alpalhankam,” tegas Wicaksono.
Wicaksono menjelaskan, PT.TMI dibentuk oleh Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan, yang dulunya adalah Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan (YKPP) di bawah Kementerian Pertahanan.
PT TMI, lanjut Wicaksono, merupakan wadah dari para ahli-ahli alutsista berteknologi canggih, ahli elektronika, dan teknokrat anak bangsa yang mempelajari dan alih teknologi (ToT) dalam proses pencarian alutsista terbaik.
“Peran kami adalah menganalisa dan memberi masukan kepada pihak-pihak yang membutuhkan, baik itu pemerintah, pendidikan, ataupun swasta dalam hal ToT,” terangnya.
“Visi kami adalah mewujudkan ToT yang berbobot, yang benar-benar berkualitas, baik dari segi teknologi dan teknis. Kehadiran kami adalah untuk menjawab permasalahan ToT yang selama ini belum maksimal, yang kerap kali disebabkan oleh beberapa prinsipal yang belum penuh dalam memberikan teknologinya kepada Indonesia,” lanjutnya.
Seperti diketahui, sebelumnya Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan (Kemenhan) berencana memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI.
Rencana pembelian alutsista tersebut tertuang dalam Rancangan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pemenuhan Kebutuhan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan Kementerian Pertahanan dan Tentara Nasional Indonesia Tahun 2020-2024.
Sebelumnya Jubir Menhan Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak juga menegaskan, bahwa PT TMI tidak berkontrak dengan Kemhan. Soal pemberitaan tentang PT TMI yang akan menguasai anggaran ribuan triliun tersebut, Dahnil membantah tegas.
“Super ngaco,” kata Dahnil dalam pesan elektroniknya.