Anggota Komisi I DPR-RI, Helmy Faishal Zaini mengatakan, saat ini telah terjadi perpindahan migrasi besar-besaran di seluruh sektor kehidupan, dari ruang yang di sebut sebagai ruang serba fisik ataupun physical space, sekarang berubah menjadi ruang yang serba digital ataupun cyber space.
“Saya sering mengatakan ini bukan sesuatu yang bersifat choice tetapi era ini adalah era yang bersifat imperatif atau memaksa kita, jadi era digital ini ada sesuatu yang taken for granted, maka untuk itu tidak ada lain bahwa kita harus menyiapkan diri, karena ekonomi kita sudah bergerak ke ekonomi digital,” ujar Helmy dalam diskusi yang diselenggarakan BAKTI Kominfo bertemakan “Pemuda dan Literasi Digital: Meneguhkan Komitmen Kebangsaan”, dikutip Senin (07/06/2021).
Menurutnya, transkasi ekonomi digital yang sudah mencapai ribuan triliun. Transaksi perbankan sudah masuk era digital karena 90 persen nasabah sudah tak laga datang ke bank, baik untuk setor maupun tarik tunai.
“Maka tahun 2025 yang diprediksikan generasi milenial akan lebih dari 70% yang menjadi penduduk di Indonesia dan pada tahun tersebut diperkirakan juga akan terjadi bonus demografi maka marilah saya mengajak pada momentum yang penting ini pada anak-anak muda untuk melakukan sebuah transformasi besar-besaran dengan menyiapkan apa yang disebut sebagai penguasaan literasi sosial media,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, akademisi Universitas Esa Unggul Jakarta Gun Gun Siswadi menyebut Palapa Ring menjadi tulang punggung ekonomi digital Indonesia. Karena menghubungkan 514 Kabupaten/Kota di Indonesia dengan menyediakan akses internet berkecepatan tinggi kepada masyarakat.
Menurutnya, dengan fasilitas tersebut, masyarakat tidak terlepas dari ancaman penggunaan internet. Misalnya maraknya hoaks, radikalisme, penipuan, pornografi, bullying, prostitusi, sinis, SARA, ujaran kebencian, narkoba dan lain sebagainya.
“Maka perlu dilakukan digital literasi. Literasi digital yaitu literasi data kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan big data, literasi teknologi memahami cara kerja aplikasi teknologi coding atau programming, artificial intelligence dan engineering principles, literasi manusia kemampuan komunikasi, kolaborasi, berfikir kritis, kreatif, dan inovatif,” katanya.
Menurutnya, ada empat dasar digital culture yaitu pengetahuan dasar akan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan kehidupan berbudaya, berbangsa, dan berbahasa Indonesia. Pengetahuan dasar membedakan informasi mana saja yang tidak sejalan dengan nilai Pancasila pada mesin telusur dan pengetahuan dasar mengetahui pentingnya multikulturalisme dan kebhinekaan.
“Serta memahami cara melestarikan bahasa daerah, seni dan budaya dalam ruang digital, pengetahuan dasar yang mendorong perilaku mencintai produk dalam negeri, serta memahami hak atas akses kebebasan berekspresi dan hak atas kekayaan intelektual di dunia digital,” tutupnya.