MCMNEWS.ID | Bungas T. Fernando Duling
MCMNEWS.ID – Di tengah dinamisnya panggung politik tanah air, tidak banyak figur yang mampu mempertahankan garis perjuangannya tetap tegak lurus pada cita-cita proklamasi. Nama Bungas T. Fernando Duling mencuat sebagai salah satu intelektual sekaligus praktisi yang mendedikasikan langkahnya untuk menghidupkan kembali roh ekonomi kerakyatan.
Bagi sosok yang akrab disapa Bungas ini, politik bukanlah ajang perburuan kuasa semata, melainkan instrumen vital untuk membumikan Pasal 33 UUD 1945 ke dalam ruang tamu rakyat kecil.
Dari Garis Depan Reformasi ke Advokasi Akar Rumput
Memulai kiprah sebagai bagian dari eksponen Aktivis 98, Fernando Duling adalah saksi sekaligus aktor sejarah yang mendobrak tirai otoritarianisme. Alih-alih memilih jalur politik praktis yang instan pasca-Reformasi, ia justru memilih jalan sunyi pengorganisiran massa.
Langkah konkretnya terlihat saat ia membidani lahirnya Komite Aksi Rakyat Teritorial (KARAT) dan mengemban amanah sebagai Sekjen Advokasi Rakyat untuk Nusantara (ARUN).
Di titik inilah, ia berjibaku dengan konflik agraria dan berdiri paling depan dalam membela hak-hak pertanahan masyarakat adat serta petani.
Tak berhenti di sana, melalui KOMANDO (Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia), ia terus menyemai benih aktivisme di kalangan generasi muda agar tetap memiliki kompas moral yang berpihak pada kedaulatan Nusantara.
Visi Kedaulatan, Negara Sebagai Dirigen Ekonomi
Pemikiran Fernando mengenai ekonomi konstitusional bukan sekadar retorika. Dalam salah satu esai tajamnya di media nasional, ia memberikan peringatan keras mengenai kondisi rantai pasok Indonesia:
“Kedaulatan ekonomi tidak akan pernah tercapai selama rantai pasok pangan dan logistik kita masih dikuasai oleh segelintir oligarki. Negara harus hadir sebagai dirigen, memastikan bumi, air, dan kekayaan alam dikelola oleh rakyat, untuk rakyat, melalui sistem koperasi dan BUMN yang sehat.”
Prinsip “Kedaulatan Rantai Pasok” ini pula yang menjadi ruh saat ia dipercaya mengomandoi urusan Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan sebagai PIC TKN GOLF. Ia memandang sektor pangan bukan sekadar angka statistik, melainkan pilar utama pertahanan negara yang tidak boleh goyah.
Menyambung Mata Rantai Ekonomi Rakyat
Kiprahnya semakin nyata saat ia dipercaya menjabat sebagai Komisaris KAI Logistik. Di posisi strategis ini, ia meyakini bahwa musuh terbesar Pasal 33 adalah distribusi yang mahal dan tidak efisien.
Baginya, logistik harus menjadi jembatan yang memudahkan hasil bumi petani lokal sampai ke tangan konsumen dengan harga yang adil.
Kini, peran krusial berada di pundaknya sebagai Mandatori Ketua Aliansi Yayasan MBG Nusantara. Dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), Fernando menguji langsung gagasannya yakni memastikan bahan baku pangan diserap langsung dari tangan petani dan peternak lokal. Inilah wujud nyata dari hilirisasi ekonomi rakyat yang ia perjuangkan sejak lama.
Sebuah Garis Lurus Perjuangan
Perjalanan hidup seorang Bungas T. Fernando Duling dari jalanan, ruang advokasi, hingga kursi kebijakan BUMN, memperlihatkan sebuah konsistensi yang jarang ditemukan. Ia membuktikan bahwa jabatan hanyalah alat untuk memperluas jangkauan keberpihakan pada ekonomi konstitusional.
Sosoknya menjadi pengingat bagi publik bahwa kemakmuran bangsa harus dirasakan secara kolektif, bukan hanya menjadi milik segelintir elite, selama Pasal 33 UUD 1945 tetap menjadi napas dalam setiap kebijakan.