MCMNEWS.ID | Salah satu bangunan yang diduga Benteng di Tangerang. Dok: Hallo.id/ Kmk312meettaa.wordpress.com
MCMNEWS.ID – Setiap tanggal 13 Oktober diperingati sebagai hari ulang tahun Kabupaten Tangerang. Tahun ini, Kabupaten Tangerang genap berusia 390 tahun.
Sebagai salah satu wilayah yang terbilang cukup tua, Kabupaten Tangerang memiliki sejarah yang panjang.
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, sejarah Kabupaten Tangerang diriwayatkan bermula saat Kesultanan Banten terdesak oleh Agresi Militer Belanda pada pertengahan abad ke-16, diutuslah tiga maulana yang berpangkat Tumenggung untuk membuat perkampungan pertahanan di wilayah yang berbatasan dengan Batavia.
Ketiga Tumenggung itu adalah, Tumenggung Aria Yudhanegara, Aria Wangsakara, dan Aria Jaya Santika. Mereka segera membangun basis pertahanan dan pemerintahan di wilayah yang kini dikenal sebagai kawasan Tigaraksa.
Jika merunut kepada legenda rakyat dapat disimpulkan bahwa cikal-bakal Kabupaten Tangerang adalah Tigaraksa. Nama Tigaraksa itu sendiri berarti Tiang Tiga atau Tilu Tanglu, sebuah pemberian nama sebagai wujud penghormatan kepada tiga Tumenggung yang menjadi tiga pimpinan ketika itu.
Seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten membangun tugu prasasti di bagian Barat Sungai Cisadane, saat ini diyakini berada di Kampung Gerendeng. Waktu itu, tugu yang dibangun Pangeran Soegri dinamakan sebagai Tangerang, yang dalam bahasa Sunda berarti tanda.
Prasasti yang tertera di tugu tersebut ditulis dalam huruf Arab gundul berbahasa Jawa kuno yang berbunyi ‘Bismillah pget Ingkang Gusti/Diningsun juput parenah kala Sabtu/Ping Gangsal Sapar Tahun Wau/Rengsena perang netek Nangaran/Bungas wetan Cipamugas kilen Cidurian/Sakabeh Angraksa Sitingsun Parahyang’, yang berarti ‘Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa/Dari Kami mengambil kesempatan pada hari Sabtu/Tanggal 5 Sapar Tahun Wau/Sesudah perang kita memancangkan tugu/untuk mempertahankan batas Timur Cipamungas (Cisadane) dan Barat Cidurian/Semua menjaga tanah kaum Parahyang’. Sebutan ‘Tangeran’ yang berarti ‘tanda’ itu lama-kelamaan berubah sebutan menjadi Tangerang sebagaimana yang dikenal sekarang ini.
Kemudian pemerintahan ‘Tiga Maulana’, ‘Tiga Pimpinan’ atau ‘Tilu Tanglu’ tersebut tumbang pada tahun 1684, seiring dengan dibuatnya perjanjian antara Pasukan Belanda dengan Kesultanan Banten pada 17 April 1684.
Lanjut membaca ke halaman berikutnya