MCMNEWS.ID | Ilustrasi Hari Tanpa Televisi. Dok: CNV
MCMNEWS.ID – Selain diperingati sebagai Hari Anak Nasional, setiap tanggal 23 Juli juga diperingati sebagai Hari Tanpa Televisi.
Namum Hari Tanpa Televisi bukan berarti TV di rumah kalian harus segera dibuang atau dijual, tetapi gerakan ini mengajak keluarga atau orang sekitar untuk tidak menonton TV selama sehari.
Dikutip dari berbagai sumber, sejarah gerakan Hari Tanpa Televisi digagas oleh Yayasan Pendidikan Media Anak yang kemudian mengajak Koalisi Nasional pada 2008 lalu. Alasannya perayaan Hari Tanpa Televisi disebut-sebut karena tidak sedikit tayangan TV yang tak mendidik dan tak aman untuk anak.
Memang, kalau kita lihat, beberapa tayangan di televisi semakin lama semakin menimbulkan dampak negatif.
Salah satu dampak negatifnya seperti yang dilansir The New York Times, Ekonom Italia, Ruben Durante, menemukan bahwa terjadi penurunan IQ pada anak-anak yang lebih sering terpapar tayangan dengan hiburan dan iklan dari pada mereka yang menayangkan materi edukasi atau berita.
Sedangkan tayangan di Indonesia sendiri tak sedikit yang menampilkan unsur gossip, kekerasan, percintaan tak sesuai umur, komedi yang terlalu berlebihan berujung kepada bullying dan hal negatif lainnya.
Padahal, televisi merupakan salah satu media massa elektronik yang memberikan tayangan yang bersifat informatif dan edukatif.
Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PKS, Jazuli Juwaini dalam webinar literasi publik bertema Penyiaran Ramah Keluarga, pada Rabu (13/7/2022), menyebut bahwa perlu ada kontrol dari lembaga penyiaran itu sendiri harus bertanggung jawab, bukan hanya sekedar mengejar target tertentu.
Dengan berbagai tayangan yang tidak berkualitas dan tak sesuai dengan usianya, dikhawatirkan anak-anak akan melakukan adegan-adegan yang sering mereka lihat di TV.
Mengingat di usia itu, lebih mudah untuk menyerap dan menerima informasi yang dilihat dan didengar, tanpa disaring dulu.
“Kalau penyiaran itu hanya menyodorkan tentang gosip, menyodorkan berita-berita kekerasan, dan hal-hal lain yang bersifat negatif, jika tanpa adanya pendampingan bisa membahayakan terhadap pembentukan karakter anak didik, terhadap kecerdasan emosional, spiritual, yang pada akhirnya membuat anak-anak didik tidak bisa mencapai apa yang ditargetkan dalam undang-undang pendidikan,” kata Jazuli dilansir dari infopublik.id
Seandainya gerakan Hari Tanpa Televisi dapat diikuti oleh jutaan masyarakat di Indonesia, bisa memiliki dampak yang cukup baik loh, khususnya untuk perkembangan anak.
Salah satunya mengurangi ketergantungan terhadap TV, serta sebagai ungkapan keprihatinan terhadap acara yang tidak berkualitas.
Selain itu, juga dapat menyadarkan para orangtua dan dewasa untuk turut bertanggung jawab pada perkembangan anak, yaitu dengan lebih memperhatikan pola kebiasaan mereka melihat tayangan di TV.
Karena Menurut profesor Komunikasi di Ohaio University, Amy Nathanson Ph.D., dilansir dari Psychology Today, televisi ternyata juga mengurangi jumlah interaksi dan komunikasi anak dengan orangtua.
Hal ini tentu saja akan menjadi hal buruk untuk anak di masa depan. Sebaiknya orangtua meningkatkan kuantitas dan kualitas komunikasi dengan anak sejak kecil.
Para orang tua juga bisa mengganti kegiatan mereka dengan hal yang lebih positif, misalnya membangun kebersamaan melalui permainan yang diciptakan bersama secara kreatif untuk mengisi waktu yang biasa digunakan anak-anak untuk nonton TV.
Penulis: Irfan Kurniawan