MCMNEWS.ID | Sekretaris Fraksi PKS DPRD Kota Tangsel, Shinta Wahyuni Chairuddin. Dok: Istimewa
MCMNEWS.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan (Tangsel) dikabarkan sedang merencanakan akan membangun Glamping (Glamour Camping), yaitu tenda khusus karantina yang diperuntukan bagi pasien Covid-19.
Pengadaan Glamping merupakan upaya Pemkot dalam menambah kapasitas dan fasilitasi pasien Covid di Kota Tangsel sebagai langkah antisipasi ketersediaan Rumah Lawan Covid-19 (RLC) yang sudah over capacity.
Kabarnya, setiap tenda Glamping diperkirakan bisa menampung sebanyak 150 pasien.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Fraksi PKS DPRD Kota Tangsel, Shinta Wahyuni Chairuddin, mengapresiasi langkah Pemkot Tersebut. Menurutnya pandemi Covid-19 ini sulit dipastikan sampai kapan berakhirnya, jika dilihat dari tren kasusnya yang terus bertambah. Terlebih virus ini telah bermutasi berkali-kali.
“Saya mengapresiasi upaya Pemkot dalam penambahan Glamping ini. Namun, jika dirasa masih kurang cukup, mungkin bisa ditambah dengan Rumah Isolasi Kolektif di setiap wilayah RW atau kelurahan. Pemkot bisa mengajak masyarakat untuk terlibat dan bergotong-royong dalam mewujudkannya,” kata Shinta, dalam keterangan tertulisnya kepada Mcmnews.id, Selasa, (02/2/2021).
Dikatakan Shinta, kondisi yang makin crowded ini menyebabkan penanganannya tidak optimal dan sulit dapat merespons dengan cepat jika terjadi gelombang yang lebih besar.
Rumah Lawan Covid, termasuk tenda yang akan dibangun, itu menurut Shinta hanya dapat menyediakan tempat untuk sekitar 10 persen dari total kasus suspect yang mencapai 4000 kasus di Kota Tangsel.
Lanjut Shinta, konsekuensi terbatasnya tempat isolasi akan menyebabkan mobilitas terdampak kasus positif menjadi tinggi, sehingga kondisi seperti ini juga akan memungkinkan memperparah keadaan.
“Artinya kesiapan kita diperlukan apabila terjadi peningkatan jumlah pasien,” tuturnya.
Pengelolaan rumah isolasi tersebut, menurut Shinta, diharapkan dapat terkontrol dengan baik dan mobilitas suspect yang rendah. Warga yang keluarganya dirawat dapat saling mensupport dan berperan aktif dalam membantu saudaranya yang sakit, sehingga upaya pemulihan dapat lebih mudah dilakukan.
“Dari mana tingkat kelurahan atau RW ini mendapatkan tempat yang dapat dijadikan Rumah Isolasi Kolektif yang layak, di tengah minimnya fasilitas yang ada. Di sinilah pentingnya peran Pemkot dan masyarakat setempat. Pemkot dapat meminjam, menyewa, atau memanfaatkan fasos dan fasum yang terdapat di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Shinta menyebutkan beberapa tempat yang masih bisa digunakan, misalnya sekolah-sekolah negeri atau gedung pemerintahan yang masih kosong. Dalam penyediaan rumah isolasi tersebut juga perlu diperhatikan luasan tempat yang ideal, sarana dan prasarana, ventilasi yang baik, kondisi pasien, jumlah dan kualifikasi tenaga medis, anggaran, makanan bergizi, dan lain sebagainya.
“Jika rumah isolasi ini dapat didirikan di setiap kelurahan atau RW maka tidak hanya kasus Covid-19 bisa ditekan, juga dapat meminimalisir beban pemerintah kota dalam penanganan pandemi. Oleh karena itu, Pemkot Tangsel perlu segera membangun Rumah Isolasi Kolektif di setiap kelurahan atau RW,” tandasnya.