Terlihat dalam video tersebut, petugas sempat mengancam pemilik angkringan untuk tak menyebarkan video yang sedang direkamnya.
Shofwan yang memang secara sengaja merekam penertiban itu menggunakan ponselnya.
Namun, seorang petugas Satpol PP Tangerang Selatan yang lainnya malah bertanya tujuan Shofwan merekam video.
“Ada satu petugas Satpol PP nyamperin, nanya, ‘Mau naikin ke media?’. Saya bilang, ‘Saya video ini buat antisipasi adanya kekerasan atau tidak’,” paparnya.
Mirisnya, dalam video tampak salah seorang petugas berbaju oranye, yang diduga melakukan intimidasi kepada pemilik angkringan.
Petugas berbaju oranye tersebut terdengar mengatakan, jika permasalahan malam itu naik di media, maka pemilik angkringan akan dibawa oleh petugas.
“Besok kalau naek media, dia (pemilik angkringan)nya aja bawa,” ungkap petugas berbaju orange dalam video.
Shofwan sangat menyesalkan sikap petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tangerang Selatan yang dianggap tidak humanis dalam menegakan aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.
Shofwan yang juga sebagai Mahasiswa di salah satu Universitas di Kota Tangsel menjelaskan, petugas Satpol PP sempat memarahi dengan suara keras kepadanya dan rekan kerja wanita yang menjaga angkringan di wilayah Pamulang, Tangsel pada Minggu 18 Juli 2021.
“Saya dari awal tidak menyediakan fasilitas lesehan atau apapun, tapi delivery atau takeaway. Semua tau aturannya. Memang, saya buka sampai jam 21.00 wib. Tapi, ini adalah satu-satunya mata pencaharian saya, untuk biaya kuliah,” ungkapnya dalam video, Selasa (20/7/2021).
Video yang saat ini telah tersebar di dunia maya tersebut, sontak mendapatkan tanggapan yang ramai dari warga maya.