MCMNEWS.ID | Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Tangerang Selatan, Wanto Sugito. Dok: Tim desain MCMNEWS
17 Agustus merupakan tanggal yang paling bersejarah bagi kita semua sebagai rakyat Indonesia. Kita sadar betul 77 tahun yang lalu, di Jalan Pengangsaan Timur No 56, Jakarta, merupakan saksi bisu kala Presiden pertama kita Bung Karno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Bahkan sebelum membacakan teks, bung Karno menegaskan:
“Kini tiba saatnya bagi kita untuk berani meletakkan nasib bangsa dan nasib tanah air di tangan kita sendiri. Sebab hanya bangsa yang berani meletakkan nasib di tangan kita sendiri, akan berdiri dengan kuatnya”.
Pertanyaannya, apakah setelah 77 tahun proklamasi kemerdekaan, kita sudah benar benar memahami makna dari kemerdekaan itu sendiri?
PDI Perjuangan Kota Tangsel sendiri melakukan upacara peringatan sebagai bahan refleksi, serta kontemplasi kita semua agar menjadi bangsa yang benar- benar merdeka. Merdeka pikiran dan merdeka tindakan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.
Pada pidato 1 Juni, Bung Karno mengatakan kalau kemerdekaan hanyalah ‘jembatan emas’. Di sebarang jembatan itulah Indonesia akan menyusun kemerdekaan yang sesungguhnya.
Kemerdekaan untuk membangun ekonomi rakyat, kemerdekaan untuk pembangunan rakyat, kemerdekaan untuk Kesehatan rakyat. Menuju pada dunia yang sama rasa sama rata, atau dunia sama ratap sama tangis.
Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan yang ke77 saat ini negara mengusung tema besar yaitu ‘Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat’. Tentu tema tersebut memiliki 7 nilai filosofis tersendiri untuk kita semua dibalik logo 77 tahun ini.
Tema ini mengandung intisari dari Pancasila yakni Gotong Royong, dimana semua masyarakat kompak dan berjibaku melawan pandemi covid selama dua tahun belakangan ini bahkan menjadi salah satu negara terbaik di dunia dalam mengatasi pandemi covid 19.
Kita memang telah merdeka dari penjajah namun negara kita belum sepenuhnya merdeka dari pemikiran-pemikiran sempit yang membenturkan agama dengan agama, suku dengan suku, atau bahkan mengotak atik ideologi kita, yakni Pancasila.
Lanjut membaca ke halaman berikutnya