MCMNEWS.ID – Pemerintah Indonesia dan Singapura tengah bersiap mematangkan visi kerja sama jangka panjang menyambut peringatan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara pada tahun 2027 mendatang.
Agenda besar ini diproyeksikan tidak hanya sebagai seremoni formal, melainkan momentum untuk melahirkan arah strategis baru bagi kemitraan di Asia Tenggara.
Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, menegaskan bahwa dekade mendatang akan menjadi fase krusial untuk memperdalam kepercayaan strategis yang telah terbangun selama hampir enam puluh tahun terakhir.
“Ini bukan hanya peringatan diplomatik. Ini adalah kesempatan untuk membangkitkan kembali kemitraan kita untuk dekade mendatang dan untuk merancang arah strategis baru bagi kedua negara kita,” ungkap Sugiono dalam konferensi pers bersama di Jakarta, Selasa, (12/3/26).
Dalam pertemuan bilateral tersebut, kedua negara meninjau sejumlah proyek mercusuar, salah satunya adalah pengembangan infrastruktur listrik lintas batas.
Proyek investasi energi ini digadang-gadang akan menjadi inisiatif kelistrikan berkelanjutan terbesar di kawasan, yang sekaligus memperkuat posisi kedua negara dalam transisi energi hijau.
Selain sektor energi, sektor ketahanan pangan menjadi prioritas utama. Indonesia dan Singapura sepakat untuk melakukan ekspansi teknologi agribisnis guna menjamin ketersediaan pangan di masa depan.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tantangan rantai pasok global yang kian dinamis.
Di sektor industri, keberhasilan integrasi ekonomi di wilayah Batam-Bintan-Karimun (BBK) serta Kawasan Industri Kendal akan dijadikan model untuk pengembangan zona industri berkelanjutan baru di masa depan.
“Inisiatif ini, tentu sama, merupakan proyek ekonomi, tetapi juga merupakan peluang bagi kedua negara kita untuk menyediakan lebih banyak lapangan kerja bagi rakyat kita, menciptakan peluang, dan meningkatkan taraf hidup,” tutur Sugiono.
Menlu Sugiono juga menyoroti pentingnya peran sentral ASEAN di tengah memanasnya situasi geopolitik dunia.
Ia mencatat bahwa ketidakstabilan di wilayah Timur Tengah secara langsung berdampak pada keamanan energi dan kelancaran rantai pasokan di Asia Tenggara.
Oleh karena itu, Indonesia dan Singapura berkomitmen untuk terus menyuarakan pentingnya stabilitas internasional.
“Kami terus menekankan pentingnya de-eskalasi dialog dan penghormatan penuh terhadap hukum internasional,” pungkas Sugiono.