MCMNEWS.ID | Ekonom senior, Faisal Basri. Dok: CNN
MCMNEWS.ID – Ekonom Senior Faisal Basri berujar bahwa harga BBM di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan di sejumlah negara miskin dan negara produsen besar minyak.
Hal tersebut ia sampaikan dalan diskusi yang bertajuk ‘Subsidi Untuk Siapa? Menelaah Efektivitas Penggunaan Uang Rakyat’
“Harga di Indonesia lebih murah dibandingkan Arab Saudi,” ujar Faisal dikutip dari Tribun, Minggu, (4/9/2022).
Faisal mengatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi adalah fenomena global dan hampir pasti terjadi di semua negara. Bahkan harga BBM di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan di sejumlah negara miskin dan negara produsen besar minyak.
Faisal mengatakan, harga BBM bersubsidi di Indonesia amat jauh dari harga keekonomiannya. Subsidi solar lebih dari Rp 10.000 per liter dan pertalite Rp 7.100 per liter.
“Berapa pun kuota BBM bersubsidi tidak akan pernah cukup. Gunakan semua instrumen untuk meringankan beban rakyat,” ujarnya.
Anggota Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menyatakan bahwa konsumsi BBM bersubsidi harus dikendalikan, jika tidak maka subsidi energi bisa bertambah hampir Rp 200 triliun pada 2022.
Kini, subsidi energi Rp 502 triliun dan akan menjadi Rp 698 triliun jika kuota BBM bersubsidi ditambah.
“APBN harus diselamatkan demi kepentingan bangsa,” ujar Lamhot.
Sebelumnya, Pemerintah telah resmi memutuskan menaikan harga BBM bersubsidi yakni Pertalite,Solar, dan Pertamax. Harga terbaru BBM bersubsidi dan non-subsidi itu mulai berlaku pada Sabtu (3/9/2022) pukul 14.30 WIB.
Terkait kenaikan tersebut dijabarkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam konferensi pers di Istana Negara.
“Tanggal 3 september tahun 2022 pukul 13.30 WIB,pemerintah memutuskan untuk menyesuaikan harga bbm subsidi antara lain pertalite dari 7.650 per liter menjadi Rp. 10.000 per liter, kemudian solar subsidi dari 5.150 per liter menjadi Rp.6.800 per liter, pertamax non subsidi dari 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter.” ujar Arifin.