MCMNEWS.ID – Hari raya Idul Fitri memang sulit untuk menghindar dari makanan bersantan. Sebagian orang juga menjadikan momen tersebut sebagai ajang balas dendam untuk menikmati makanan Lebaran sepuasnya setelah berpuasa sebulan penuh.
Padahal, makanan bersantan memiliki kandungan lemak jenuh yang cukup tinggi dan jika dikonsumsi berlebih akan mendatangkan berbagai macam penyakit yang berbahaya bagi tubuh.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit UI, Muhammad Hafiz Aini memberikan tips pengaturan pemilihan makanan saat Lebaran, salah satunya mengurangi santan.
“Menggunakan prinsip isi piringku, dilengkapi dengan makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah. Jumlah sayur dan buah dicukupi hingga setengah piring. Usahakan untuk mengurangi penggunaan santan,” ujar dia dalam siaran pers RSUI, Kamis.
Berikut beberapa dampak buruk dari makanan bersantan dilansir dari m.klikdokter.com :
Meningkatkan kadar kolesterol dalam darah
Setiap 300 ml santan kaya akan lemak jenuh yang mengandung hampir 90 persen dari total kebutuhan dalam sehari. Begitu juga dengan seporsi kelapa kering yang biasa digunakan sebagai bumbu rendang dan serundeng. Bahkan, secangkir kelapa kering memiliki lemak jenuh lebih dari 100 persen batas atas yang disarankan.
Konsumsi santan yang berlebih dalam makanan dapat meningkatkan LDL atau kolesterol jahat dalam darah, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Hal ini disebabkan oleh lemak atau kolesterol jahat yang membuat timbunan plak dan menyumbat pembuluh darah Anda.
Peningkatan gas dan asam lambung
Mengonsumsi makanan bersantan dalam jumlah besar dapat meningkatkan produksi gas dan membuat perut terasa penuh, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan. Terlebih lagi ketika perut dalam keadaan kosong saat menjalankan ibadah puasa, hendaknya hindari makanan yang bersantan dan mulailah dengan minuman manis terlebih dahulu.
Perut yang kosong, tapi sudah dimasuki santan dapat mempersulit lambung mencerna makanan lain, sehingga akan timbul rasa nyeri pada lambung dan memicu peningkatan asam lambung secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat menjadikan faktor pencetus munculnya penyakit mag atau gastritis.
Penyempitan pembuluh darah
Penyempitan pembuluh darah atau aterosklerosis terjadi karena adanya sumbatan dari plak. Plak ini sendiri terdiri dari kolesterol dan endapan lemak jahat.
Saat plak terbentuk, dinding arteri kehilangan elastisitas yang mengurangi aliran darah dan menyumbat asupan oksigen ke otak dan sel tubuh lainnya. Sehingga, jika terdapat sumbatan dalam jumlah besar, maka hal ini bisa menyebabkan munculnya penyakit jantung koroner yang sangat berbahaya.
Meningkatkan tekanan darah
Tingginya kolesterol dalam makanan yang dikonsumsi akan berpengaruh terhadap hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan kondisi saat tekanan darah pada dinding arteri meningkat.
Dalam keadaan normal, arteri yang sehat bersifat fleksibel, kuat. dan elastis. Lapisan dindingnya halus, sehingga darah mengalir bebas dan mampu memasok nutrisi dan oksigen ke organ vital dan jaringan tubuh lainnya.
Hal ini berubah ketika arteri mengalami penumpukkan plak atau endapan kolesterol jahat. Arteri menjadi tidak elastis, sehingga bisa menjadi faktor pencetus naiknya tekanan darah.
Diare
Kadar serat tinggi pada santan kelapa dapat menyebabkan gas yang berlebih dan memicu penekanan pada saluran pembuangan, sehingga proses pengentalan dan pengerasan feses jadi sulit terjadi. Kondisi ini menyebabkan munculnya keluhan nyeri perut dan diare.
Munculnya jerawat
Jenis kulit berminyak sangat rentan menjadi lebih sensitif karena santan kelapa yang dikonsumsi secara berlebih. Lemak santan dapat meningkatkan kadar minyak alami yang ada di bawah kulit menjadi terkontaminasi lemak jenuh, sehingga dapat menyumbat pori-pori, meningkatkan jumlah komedo, dan memicu munculnya jerawat.
Saat Hari Raya Lebaran tiba, hendaknya Anda dapat mengontrol diri untuk tetap mengonsumsi makanan yang sehat dan bagi tubuh. Kurangi kebiasaan buruk terlalu banyak mengonsumsi makanan bersantan, karena sebenarnya, santan merupakan jenis makanan yang dapat mendatangkan manfaat jika dikonsumsi dalam porsi yang pas.
Selain itu, sebaiknya hindari jumlah garam yang berlebihan misalnya kerupuk yang tinggi kalori dan natrium, juga karbohidrat tersembunyi agar tubuh tak terkena berbagai penyakit salah satunya hipertensi.
“Sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan keluhan, sehingga hipertensi sering disebut dengan silent killer. Beberapa gejala hipertensi yang umum di antaranya nyeri dada, dada berdebar, penglihatan buram, mudah lelah, pusing, dan sakit kepala,” tutur Hafiz.
Hafiz mengatakan, sekitar 1 miliar orang di dunia memiliki hipertensi dan sebanyak dua pertiganya ada di negara-negara berkembang, serta 25,8 persen orang dengan hipertensi hanya sepertiganya yang terdiagnosis.
Faktor risiko hipertensi sebenarnya ada dua macam yaitu faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, genetik, sementara faktor yang dapat diubah yakni terkait gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, diet tidak sehat yang tinggi natrium/garam, obesitas, stres, dan merokok.
“Tekanan darah normal jika nilai sistol kurang dari 120 dan diastol kurang dari 80. Seseorang dengan tekanan sistol lebih dari 140 dan diastol lebih dari 90 harus melakukan kontrol rutin hipertensi di fasilitas kesehatan. Jika tekanan darah sistol lebih dari 180 dan diastol lebih dari 120 dan ada keluhan mendadak, dikenal dengan krisis hipertensi, jika mengalami keadaan ini harus segera dibawa ke IGD,” kata dia.
Ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan saat melakukan pengukuran tekanan darah di rumah yaitu: sebelum pengukuran pastikan istirahat 2-5 menit, posisi duduk, tidak minum kafein, minum obat rutin, dan tidak menahan buang air kecil.
Selanjutnya, pengukuran sebaiknya dilakukan 2-3 kali dengan selang 1 menit yang dilakukan saat pagi atau malam selama 3-7 hari untuk mendapatkan variasi dan rata-rata tekanan darah.
Berikutnya, Anda disarankan menggunakan alat tensi digital (lengan), jangan lupa untuk kalibrasi alat, dan jangan banyak bergerak saat pengukuran.
Hafiz menambahkan, bagi Anda yang sudah terlanjur terkena hipertensi untuk bisa mengendalikan penyakit melalui PATUH (Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter; Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat, benar, dan rutin; Tetap diet dengan gizi seimbang; Upayakan aktivitas fisik secara rutin dan aman; Hindari asap rokok, alkohol, dan zat berbahaya lainnya.
“Kita harus bisa hidup sehat tanpa hipertensi, namun kalau sudah kena hipertensi, kita bisa hidup sehat dengan hipertensi,” demikian pesan dia.
Laporan: Irfan Kurniawan