MCMNEWS.ID | Rahayu Saraswati Diskusi bersama salah seorang tokoh NU, Gus Irfan Yusuf Hasyim yang merupakan cucu dari KH Hasyim Asyari, dalam acara Let's Talk with Sara pada channel youtube milik Rahayu Saraswati. (Dok: Istimewa)
MCMNEWS.ID – Menyambut hari Santri Nasional yang diperingati pada tanggal 22 Oktober 2020, calon Wakil Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Rahayu Saraswati Djojohadikusumo berkesempatan untuk menggali lebih dalam peran Pendiri NU, KH Hasyim Asyari dan dunia pesantren.
Diskusi bersama salah seorang tokoh NU, Gus Irfan Yusuf Hasyim yang merupakan cucu dari KH Hasyim Asyari dilaksanakan dalam acara Let’s Talk with Sara pada channel youtube milik Rahayu Saraswati.
Gus Irfan mengatakan bahwa KH Hasyim Asyari dan dunia pesantren terlibat aktif dalam kemerdekaan Republik Indonesia.
“Tahun 30an, Indonesia masih dijajah Belanda, tapi KH Hasyim Asyari waktu itu sudah memerintahkan para santrinya baik di Pesantren Tebuireng dan juga di pesantren lain untuk berlatih bernyanyi lagu Indonesia Raya, yang saat itu dilarang oleh Belanda,” kata Gus Irfan yang kini mengasuh Pesantren Al-Faros Tebuireng Jombang Jawa Timur, Kamis, (22/10/2020).
Terkait Hari Santri Nasional 2020 kali ini yang mengangkat tema “Santri Sehat, Indonesia Kuat”, Waketum DPP Partai Gerindra itupun menanyakan kondisi pesantren ditengah pandemi Covid-19.
“Pesantren sudah mulai berjalan kembali. Itu pun belum seratus persen karena sifatnya pilihan. Kalau orang tua mau, monggo,” tuturnya.
“Kalau mau kembali lagi ke pesantren, ada tahap karantina dulu selama dua minggu, kemudian melakukan rapid test, barulah masuk asrama,” lanjutnya.
Gus Irfan juga mengatakan, ada sebanyak kira-kira 500 santri setiap tahunnya yang melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi seperti ke perguruan tinggi di luar pesantren.
Sementara itu, Saraswati mengatakan saat ini banyak anak Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Namun dikatakan Saraswati, terbatasnya daya tampung yang dimiliki sekolah-sekolah atau perguruan tinggi tersebut membuat banyak anak tidak bisa melanjutkan pendidikan mereka.
“Ini juga saya alami di lapangan, banyak anak-anak kita ini sebenarnya mau melanjutkan ke jenjang berikutnya, tapi karena daya tampungnya tidak memadai, akhirnya mereka tersingkir,” kata Saraswati.