Sabtu, 19 Sep 2020 | WIB

Punya Background Sebagai Aktivis, Sara Nilai Ketimpangan Sosial Di Tangsel Berkaitan Dengan Kondisi Ekonomi Sosial Masyarakat

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 23 Juni 2020, 13:41 WIB
MCMNEWS.ID | Rahayu Saraswati. (Dok: Instagram @Rahayusaraswati)

MCMNEWS.ID –  Suhu politik di Tangerang Selatan mulai hangat seiring bermunculannya bacalon (bakal calon) Wali Kota Tangerang Selatan yang siap bersaing dalam Pilkada Tangerang Selatan 2020.

Bacalon yang muncul hingga kini beragam ada yang sudah resmi di rekomendasikan oleh partai politik sampai berasal dari kalangan yang belum resmi diusung atau mendapat rekomendasi dari partai politik.

Pencitraan di ruang publik seperti pemasangan baliho hingga sowan dari tempat satu ke tempat lain guna mendapat dukungan, gencar di lakukan oleh para bacalon tersebut.

Sementara itu, minimnya gagasan dan ide para bacalon ini menjadi keluhan dibeberapa kalangan budayawan, aktivis, dan akademisi lokal kota tangsel sendiri. Sehingga pilkada terasa sangat membosankan.

Karena menuju Pilkada 2020 Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sendiri dinilai masih memiliki permasalahan serius yang harus segera diselesaikan, yaitu ketimpangan sosial.

Di sisi lain, Bakal Calon Walikota Tangerang Selatan (Tangsel), Rahayu Saraswati, ketika dikonfirmasi mengungkapkan, menurutnya ketimpangan sosial yang terjadi di Kota Tangsel berhubungan erat dengan ekonomi sosial masyarakat.

“Saya pasti melihat dari beberapa sisi untuk permasalahan sosial yang menjadi fokus saya sebagai aktivis, di Tangsel ada ketimpangan yang luar biasa. Orang biasa melihat BSD, Serpong dan seterusnya, tetapi kondisi diluar tempat-tempat yang sudah berkembang tentunya ada wilayah yang masih harus diperhatikan,” kata wanita yang akrab disapa Sara kepada Mcmnews.id, Selasa, (23/6/2020).

“Ketimpangan ini pasti berhubungan dengan ekonomi sosialnya juga. Sehingga upaya untuk meminimalisir ketimpangan ini harus jadi fokus utama,” tambahnya.

Menurutnya permasalahan ketimpangan sosial jika tidak segera diatasi akan berdampak besar. Dikatakan Sara, tidak menutup kemungkinan  berakibat pada perilaku kekerasan.

“Keresahan sosial ini juga bisa berbentuk kekerasan pada perempuan dan anak. Ini juga harus mendapatkan perhatian dari pemerintah tidak cukup dari civil society saja,” kata wanita yang juga aktivis perempuan dan anak.

“Saya akan mulai dari pendidikannya, lapangan pekerjaan, kewirausahaan, peluang atau akses ke modal, pelatihan, dan seterusnya. Lalu tentunya kota yang maju harus berkelanjutan. Saya mau fokus juga pada pengelolaan ekonomi sirkuler dimana lingkungan hidup harus bisa dijaga dan terjaga,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Sara juga menilai Kota Tangsel yang memiliki motto Cerdas, Modern, dan Religius, justru dinilai Gagap Teknologi (Gaptek), lantaran belum maksimal memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pengelolaan sampah.

Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi dibidang persampahan, dikatakan Sara, Kota Tangsel seharusnya mampu mengelola sampah sehingga dapat meminimalisir jumlah sampah.

“Seharusnya dengan teknologi (pengelolaan sampah) yang sudah ada di dunia, (penumpukan di) tempat penampungan sampah sudah tidak terjadi masalah seperti itu,” kata Sara.

“Sayang karena limbah jarang diperhatikan akhirnya menjadi longsor dan jadi polusi yang lebih besar lagi,” tandasnya.

back-to-top