Detail

PTM Tak Kunjung Berlangsung, Siswa SD di Tangsel Rindukan Teman Sekolah

Saturday, 14 August, 2021, 15:28 WIB
Penulis: MCMNEWS.ID

MCMNEWS.ID – SDN 04 Pondok Jagung Kota Tangerang Selatan (Tangsel) telah menyiapkan desain persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Kepala Sekolah SDN 04 Pondok Jagung Tangsel, Asli Maryuli, mengatakan, rombongan belajar (Rombel) di SDN 04 Pondok Jagung sebanyak 13 rombel. Dengan total murid 305.

Dengan data peserta didik tersebut, pihaknya membuat persiapan untuk dilakukan tatap muka secara shift. Nantinya, kelas pagi dan siang diharapkan dapat maksimal dalam memberikan pendidikan kurikulum dan karakter kepada para siswa.

“Kita bikin skema dan alur untuk penerapan tatap muka yang diwacanakan awal 2021 lalu. Bisa dilihat, kan ada alurnya (petunjuk panah), sampai sekarang udah rusak lagi, alur masuk alur keluar gerbang, di pintu masuk itu ada hand sanitizer, ada tisu. Guru-guru sudah siap, pengaturan jam sudah siap, seminggu anak dua kali masuk, sekali jam belajar adalah dua jam,” kata Yuli saat ditemui diruang kerjanya, ditulis Sabtu (14/8/2021).

“Ruangannya ada enam. Penerapannya harus di shift. Di kelas juga dibagi, gak semua masuk, delapan atau sepuluh siswa per kelasnya, rata-rata per kelas sekarang ada 25 siswa. Itu semua sudah disiapkan matang, ternyata Bulan Januari gagal PTM, Maret gagal, semakin kesini Covid-19 semakin naik, setelah Lebaran niatnya masukkan Bulan Juli, Juni naik angkanya (Covid-19), akhirnya tidak jadi lagi, persiapan sekolah sudah siap semua,” tegas Yuli.

Yuli mengungkapkan, pihaknya telah melakukan survei melalui selebaran yang dibagikan untuk wali atau orang tua siswa. Yuli mengungkapkan, mayoritas orang tua murid setuju dengan PTM, melalui Protokol Kesehatan (Prokes) yang ketat.

Lanjut Yuli, para orang tua siswa), bahkan meminta pendampingan dari satuan tugas (Satgas) Covid-19, agar penerapan prokes dapat berjalan maksimal.

“Pada setuju gelar PTM. Alasannya kuota internet kalau daring kan banyak makan kuota. Kedua, waktu orang tua tersita mendampingi anak dalam belajar, ketiga kalau orang tua itu mampu mengajari dan kalau orang tua mampu mendampingi siswa itu keluhan dari orang tua siswa,” ungkap Yuli.

“Kuota internet Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Itu awal-awal saja. Sebulan atau dua bulan saja, itu juga tidak dirasakan oleh seluruh siswa, apakah orang tua tidak tahu dapet atau tidaknya. Guru dan siswa dulu pernah dapat tapi sekarang tidak pernah dapat,” tambah Yuli.

“Yang jelas, karakter anak tidak bisa terbentuk dengan maksimal, jadi sikapnya jadi arogan, sopan santunnya kurang, egois, untuk mengenal sesama jadi kurang. Kalau PTM kan ada interaksi dengan teman dan guru, kalau dirumah kan ya dia megang gadget aja, kemudian karakter anak juga tidak maksimal terbentuk. Kalau di sekolah anak ngomong kasar, langsung ditegur sama guru,” tandas Yuli.

Salah seorang siswa, Rizki (10) menuturkan dirinya sangat merindukan teman-teman sekolahnya yang telah satu tahun lebih tidak dijumpainya. Hal serupa dikatakan Putri (10), bahwa selain merindukan teman-teman, dirinya juga merindukan guru-guru dan sekolah tempatnya menempuh pendidikan.

“Rindu temen-temen om. Kangen sama bu guru, kangen sekolahan. Pokoknya pengwn cepet sekolah lagi om,” tutur Rizki dan Putri bersamaan.