Minggu, 27 Sep 2020 | WIB

Parpol Usung Bukan Kader Di Pilkada 2020 : Patronase Politik atau Kader Tidak Berkualitas ?

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 06 Februari 2020, 21:30 WIB
MCMNEWS.ID | (Dok : Ilustrasi)

MCMNEWS.ID –  Kontestasi pemilihan kepala daerah (pilkada) kota Tangerang Selatan (Tangsel) tahun 2020 banyak diwarnai oleh calon-calon yang bukan berasal dari kader partai politik (parpol). Hal tersebut membuktikan bahwa, kader dari masing-masing partai justru tidak diperhitungan oleh Parpolnya sendiri.

Pengamat Politik dari Financial Reform Institute, Ichsan Modjo mengatakan, bahwa kurang berkualitasnya kader, membuat parpol ‘ogah’ mengusung kader untuk bertarung memperebutkan kursi nomor satu dan nomor dua di Kota Tangsel tersebut.

“Kan ada beberapa variabel penilaian dari parpol, soal elektabilitas dan kemampuan finansial menjadi salah satu indikator kualitas kader untuk dicalonkan. Saat ini, jika fenomenanya tidak ada kader yang diusung oleh parpol, bisa jadi dua alasan tersebut yang membuat parpol mengusung pihak lain,” kata Ichsan kepada wartawan, Rabu (5/2/2020).

Menanggapi hal itu, Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Hamka, mengatakan saat ini partai politik cenderung menjadi politik dinasti, hal itu ditandai dengan mekanisme dalam memilih kader untuk mengisi jabatan politis dengan faktor kedekatan atau karena patronase politik.

“Partai politik sekarang itu cenderung menjadi politik dinasti. Oligarki politik berbasis dinasti politik yang mewarnai sistem kepartaian di Indonesia, ketika membuka kontestasi untuk jabatan-jabatan politik cendrung transaksional.” kata Hamka, kepada wartawan, Kamis, (6/2/2020).

“kenapa begitu ? Karena faktor-faktor primordial seperti kedekatan, klik politik atau patronase politik, dan mahar cenderung tidak fair ketika merekrut untuk jabatan-jabatan politik, artinya oligarki politik berbasis dinasti cendrung tidak fair dan cendrung feodal. ini yg menghambat modernisasi partai politik di indonesia.” lanjutnya.

Hamka melanjutkan, menurutnya hal itu terjadi karena faktor belum matangnya sistem partai di Indonesia. Fenomena tersebut secara teoritis terjadi pada masyarakat atau negara berkembang yang bertransformasi menjadi masyarakat modern. 

“Dimana feodalisme politik masih terasa dan terlihat menjadi gejala umumnya dimasyarakat negara berkembang menuju masyarakat negara maju atau modern, yang diwarnai dengan fenomena terutama belum mapannya sistem politik. atau dalam hal ini sistem kepartaian.” tuturnya.

Seperti diketahui, saat ini nama-nama yang muncul dalam pertarungan dalam memperebutkan kursi nomor satu di Tangsel itu didominasi dari kalangan biroksasi dan akademisi. Siti Nur Azizah, Tomi Patria, Muhammad, dan Benyamin Davnie berasal dari kalangan birokrasi, sedangkan Suhendar dan Fahd pahdepie yang berasal dari kalangan akademisi.

back-to-top