Rabu, 28 Okt 2020 | WIB

Oknum Lurah Provokasi Isu SARA. Jubir MUSA: Jangan Rusak Demokrasi Dengan Menghalalkan Segala Cara

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 06 Oktober 2020, 0:45 WIB
MCMNEWS.ID | Politisi Partai Perindo Tangsel, Dodi Prasetya Azhari. (Dok: Andre)

MCMNEWS.ID – Juru Bicara (Jubir) pasangan calon Muhamad-Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, Dodi Prasetya Azhari, angkat bicara menyoal ramainya pemberitaan adanya oknum Lurah yang menyebarkan isu Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) menjelang pelaksanaan Pilkada Tangsel 2020.

Dodi mengatakan, Lurah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) seharusnya bertindak netral. Dikatakan Dodi, ASN tidak boleh berpihak terhadap salah satu pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota tertentu, apalagi sampai memancing isu SARA karena itu merupakan pelanggaran yang harus diberikan sanksi yang tegas.

“Bawaslu Tangsel harus mampu berperan lebih aktif demi menjaga proses pelaksanaan demokrasi,” kata Dodi kepada Mcmnews.id, Senin malam, (5/10/2020).

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh oknum Lurah tersebut pasti ada yang menggerakkan, dan untuk membuktikannya Bawaslu harus mampu melakukan investigasi lebih dalam.

“Saya menduga bahwa ada pihak yang menggerakkannya sehingga Lurah tersebut berani melakukan hal tersebut. Jelas, penggeraknya hanya berpikir yang penting jagoannya menang, mungkin enggak peduli nilai etika, moral apalagi demokrasi, dan bawaslu harus aktif lakukan investigasi lebih dalam soal ini” terangnya.

“Persoalannya dengan identitas kebudayaan kita sebagai orang timur, persoalan terkait dengan tradisi bahwa berpolitik itu haruslah membangun peradaban, hal itu tidak boleh hilang hanya gara-gara persoalan kekuasaan itu,” tambahnya.

Dodi yang juga merupakan Politisi Partai Perindo itupun menuturkan, menjaga kualitas demokrasi Indonesia itu penting karena hal tersebut akan menunjukkan tingkat kualitas kita sebagai Bangsa.

“Jangan haus kekuasaan dengan menghalalkan segala cara. Ini sangat berbahaya, karena ini menentukan kualitas kita sebagai bangsa,” tegasnya.

Demokrasi harus ditunjukkan dengan membangun watak pemerintahan di tingkat manapun, dengan mengedepankan nilai kemanusiaan dan membangun rasa persaudaraan.

“Kalau kita mundur, menjadikan demokrasi hanya berorientasi kepada kekuasaan, lalu hilanglah peradaban politik kita sebagai bangsa yang besar, maka tidak ada gunanya demokrasi, dan mereka yang melakukan hal itu berarti anti demokrasi.” tutup Dodi.

back-to-top