Sabtu, 19 Sep 2020 | WIB

Jalan Terbaik Mengisi Kemerdekaan, Saraswati: Gotong Royong, Kolaborasi Pemimpin Dengan Rakyat

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 17 Agustus 2020, 19:30 WIB
MCMNEWS.ID | Rahayu Saraswati Djojohadikusumo melakukan tabur bunga di makam kedua eyangnya Subianto Djojohadikoesoemo dan Soedjono Djojohadikoesoemo, di TMP Taruna, Kota Tangerang pada peringatan HUT RI ke 75 tahun. (Dok: Istimewa)

MCMNEWS.ID  –    Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo berziarah dan mendoakan mendiang eyangnya Subianto Djojohadikusumo dan Sujono Djojohadikusumo di Taman Makam Pahlawan (TMP) Taruna, Kota Tangerang.

Diketahui, Subianto Djojohadikusumo dan Sujono Djojohadikusumo gugur pada tanggal 25 Januari 1946 dalam Pertempuran Lengkong, Serpong, Tangerang Selatan.

Bakal calon Wakil Walikota Tangsel itu memang mewarisi darah pejuang dari kedua saudara kakek kandungnya, RM Subianto Djojohadikoesoemo dan RM Soedjono Djojohadikoesoemo.

Kakek kandung Saraswati sendiri adalah Soemitro Djojohadikoesoemo, seorang begawan ekonomi Indonesia, salah satu peletak dasar arah pembangunan ekonomi Indonesia.

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo datang berziarah dan menaburkan bunga menggunakan pakaian putih suci bermasker merah putih. Bunga tersebut juga ditaburkan ke makam komandan eyangnya, Daan Mogot yang berada di paling ujung Taman Makam Pahlawan Taruna, Kota Tangerang.

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo melakukan tabur bunga di makam kedua eyangnya Subianto Djojohadikoesoemo dan Soedjono Djojohadikoesoemo, di TMP Taruna, Kota Tangerang pada peringatan HUT RI ke 75 tahun. (Dok: Istimewa)

“Dalam arti bahwa karena ada nenek moyang di sini, tepatlah saya datang pada 17 Agustus dalam rangka memperingati HUT RI 75 tahun. Jadi saya perlu memperingati apa yang telah dikorbankan leluhur,” kata Rahayu, Senin, 17 Agustus 2020.

Menurutnya, apa yang ditanamkan Djojohadikoesoemo kepadanya, sudah terpatri dari dia kecil. Saraswati percaya, tanpa kemerdekaan untuk berpikir, berbicara dan didengarkan, maka tidak akan ada kreativitas dan inovasi.

“Pemimpin, harus mewujudkan hal itu. Memberi ruang kepada rakyat untuk bebas menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka, mendengarkannya sepenuh hati, dan menjadi pertimbangan utama para pemimpin di wilayahnya untuk mewujudkannya,” jelas Rahayu.

Menurut politikus Gerindra ini, kolaborasi dengan rakyat tidak boleh dianggap sebagai sebuah beban oleh para pemimpin. Kolaborasi harusnya melahirkan kreativitas dan inovasi bersama yang sesuai dengan apa yang diharapkan rakyat, sesuai dengan kebutuhan rakyat dan wilayahnya.

“Kolaborasi rakyat dan pemimpin justru akan melahirkan kreativitas dan inovasi bersama yang sesuai dengan apa yang diharapkan rakyat, sesuai dengan kebutuhan rakyat dan wilayahnya,” tegasnya.

Keponakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto itu menambahkan, semangat kolaborasi yang sebenarnya sudah diajarkan nenek moyang bangsa Indonesia lewat tradisi “gotong royong”.

Tradisi tersebut, tegas Saraswati, merupakan perwujudan nyata bahwa kebijakan pemerintah seharusnya bukan semata dari atas ke bawah.

“Kebijakan harus datang dari bawah, pemimpin mesti lebih dulu menyerap suara, kebijakan dan kearifan rakyat, untuk diwujudkan bersama-sama. Tugas pemimpin adalah mewujudkan harapan rakyat,” tekan Saraswati.

Semangat itu yang diyakini Saraswati, sebagai jalan terbaik mengisi kemerdekaan. 

“Memberi kemerdekaan, kebebasan kepada rakyat untuk berpikir, berbicara, menyampaikan pendapat, dan pemimpin wajib mendengarkan, lalu bersama-sama merumuskan upaya untuk mewujudkannya,” ungkap mantan anggota DPR RI periode 2014-2019 ini.

Saraswati melanjutkan, kepemimpinan politik di berbagai tingkat, termasuk di level kabupaten dan kota, harus mampu mengarahkan segenap energi dan potensi bangsa.

Hal itu harus dilakukan tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan dan jenis kelamin, untuk memenangkan masa depan.

“Tanpa hal itu. Kemerdekaan hanya pencitraan belaka,” tutup Saraswati.

back-to-top