Rabu, 23 Sep 2020 | WIB

Bukan Hanya Korban, Pengamat Sebut Perdagangan Orang di BSD Juga Akan Berdampak Pada Image Wilayah

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 22 Agustus 2020, 20:07 WIB
MCMNEWS.ID | Dosen Pekerjaan Sosial Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sekaligus Pengamat Masalah Kesejahteraan Sosial, Prof Adi Fahrudin PhD. (Dok: Andre)

MCMNEWS.ID – Masyarakat Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dihebohkan dengan penggerebekan yang dilakukan oleh Bareskrim Polri terhadap tempat prostitusi berkedok hiburan malam, yakni Venesia Karaoke BSD, beberapa waktu lalu.

Penggerebekan itu dilakukan lantaran Venesia Karaoke diduga melakukan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus eksploitasi seksual.

Menanggapi hal itu, Dosen Pekerjaan Sosial Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) sekaligus Pengamat Masalah Kesejahteraan Sosial, Prof Adi Fahrudin PhD, mengatakan, hingga kini kasus perdagangan manusia yang melibatkan eksploitasi seksual masih sangat besar.

Adi mengungkapkan, berdasarkan laporan lembaga internasional, 79% kasus perdagangan manusia melibatkan eksploitasi sosial. Dikatakan Adi, hal itu bisa dilakukan dengan berbagai macam modus, seperti Karaoke, Pijat urut, dan Sauna.

“Sebenarnya dalam kasus yang terjadi di BSD itu, bagi saya yang mengamati perilaku ini, tidak heran dan rasanya bukan tidak mungkin ditempat lain (juga) ada. Karena eksploitasi seksual itu paling banyak terjadi dalam kasus perdagangan manusia,” kata Adi Fahrudin, kepada Mcmnews.id, Sabtu, (22/8/2020).

Adi menjelaskan, terdapat beberapa latar belakang yang memungkinkan terjadinya praktik perdagangan manusia. Namun menurutnya, yang lazim terjadi adalah karena faktor ekonomi.

“Kalau secara teoritis ada dua, yang pertama memang korban itu dijebak, artinya memang mereka itu tidak mengetahui bahwa mereka akan menjalankan pekerjaan seperri itu. Yang kedua korban bisa saja mengetahui sejak awal,”

“Namun yang paling lazim terjadi adalah karena faktor ekonomi, jadi ekonomi adalah faktor (yang mendorong) orang mau tidak mau atau suka tidak suka terjun ke dunia seperti itu,” tambahnya.

Adi melanjutkan, menurutnya terdapat dampak yang ditimbulkan dalam kasus perdagangan manusia, khususnya pada korban dan image suatu wilayah.

“Yang bersangkutan (korban, red) biasanya mengalami trauma psikologis. Saya berpendapat bahwa dia yang sadar terjebak disitu maupun yang tidak menyadari, harus segera ditangani secara psikososial, karena dia akan mengalami trauma, gangguan masalah psikologis,” jelasnya.

“Dampak lain yaitu soal lingkungan sosial, jadi nanti image orang terhadap BSD akan negatif, kawasan disana (terkesan) kawasan negatif, akan merubah persepsi atau stigma masyarakat terhadap suatu wilayah atau lingkungan sangat sukar terjadi,” lanjutnya.

Menurutnya, pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Kota Tangsel harus segera mengambil langkah secara komprehensif.

“Dinas Sosial Kota kemudian Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak, mana (diantara mereka) yang memiliki infrastruktur untuk menangani itu, biasanya kalau mereka tidak memiliki infrastruktur mereka akan dikirim ke instansi Pemerintah Pusat khususnya di Kementerian Sosial,” ujarnya

“Jadi kalau menurut saya penanganannya harus komprehensif, siapa yang mengirim dan siapa yang merekrut, jadi bukan hanya menindak para pemilik usaha,” tandasnya.

Seperti diketahui sebelumnya, Bareskrim Polri telah melakukan penggerebekan disalahsatu tempat Karaoke yang beroperasi di Kota memiliki motto Cerdas, Modern, dan Religius. Penggerebekan dilakukan terkait dugaan adanya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan modus eksploitasi seksual.

Dalam penggerebekan tersebut, pihak kepolisian menjaring 47 wanita pemandu lagu alias LC yang berasal dari daerah Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

back-to-top