Sabtu, 19 Sep 2020 | WIB

Bukan Corona, DBD Malah Mewabah di Tangsel. Ferdi Kritisi Kinerja Dinkes Tangsel

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 11 Maret 2020, 17:45 WIB
MCMNEWS.ID | Ferdiansyah, Ketua Fraksi PSI DPRD Tangsel.

MCMNEWS.ID –   Dua warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel) meninggal dunia diduga terserang Demam Berdarah Dengue (DBD) beberapa waktu lalu. Menanggapi hal tersebut, Ketua Fraksi PSI DPRD Kota Tangsel Ferdiansyah angkat bicara.

Ferdi sapaan akrabnya menyatakan bahwa DBD merupakan penyakit yang setiap tahun menyerang. Melihat kondisi tersebut, menurut Ferdi, Dinas Kesehatan seharusnya memiliki formula untuk mencegah penyakit DBD datang kembali.

“Ya, Dinas Kesehatan itu kan punya program juru pemantau jentik (Jumantik). Program itu harusnya dapat meminimalisir wabah DBD. Tadi saya telepon Dokter Umi, dari awal Maret saja sudah 14 orang yang dirawat karena DBD,” kata Ferdi kepada wartawan, Rabu (11/3/2020).

Berdasarkan informasi yang berkembang, alokasi anggaran di Dinkes Kota Tangsel untuk program penyakit menular, khusus penanganan penyakit DBD–dari hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan tahun 2020–sebesar Rp1,4 miliar.

Selain itu, ada pula alokasi anggaran pada kegiatan program penyemprotan atau fogging sarang nyamuk sebesar Rp617,3 juta. Anggaran ini, diantaranya, dipergunakan untuk belanja bahan bakar minyak (BBM) Rp123 juta. Jika ditotal, anggaran keseluruhan untuk pencegahan DBD ini mencapai Rp2,059 miliar.

“Dinkes dengan anggaran yang besar harus mampu menyusun program kerja yang meliputi pencegahan, penanganan dan pengobatan,” tambahnya.

Saat dikonfirmasi, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangsel dr. Umi Kulsum menyatakan bahwa hingga saat ini ada 14 pasien teridentifikasi DBD.

“Sejak awal Maret sudah ada 14 pasien mas (teridentifikasi DBD). Paling banyak dari Pamulang. Total sejak Januari 2020 hingga saat ini, ada 87 orang yang terserang DBD,” kata dr. Umi.

Dihubungi terpisah, Ketua Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) Jumantik Kecamatan Pamulang Subekti mengatakan bahwa, meski telah dilakukan sosialisasi pencegahan DBD, lingkungan masyarakat belum dapat dipastikan terbebas dari DBD.

“Kalau ditanya aman dan berdasarkan data, belum aman (dari DBD). Selain harus minimal seminggu sekali, juga harus dilakukan bersama keseluruhan wilayah. Nyamuk kan ngga kenal batas-batas wilayah. Sebetulnya setiap minggu pagi jam 8.00 kami kirim WA edukasi tentang jumantik. Sayangnya tidak digubris. Orang lebih suka bahas korban dibanding bahas pencegahan karena ada sasaran tembaknya,” pungkas Subekti.

back-to-top