Detail

Belum Ada Regulasi, Tangsel Jadi Tempat ‘Favorite’ Pengemis dari Jakarta

Selasa, 28 September, 2021, 21:07 WIB
Penulis: Andre Pradana

MCMNEWS.ID – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) berharap Kota Tangsel tidak menjadi tempat mengemis terlebih menggunakan anak dan perempuan sebagai objek menarik simpati.

Hal itu dikatakan Kepala UPT P2TP2A Kota Tangsel, Tri Purwanto, menanggapi maraknya ‘manusia silver’ di Kota Tangsel.

Tri mendesak agar adanya regulasi yang dapat memberikan sanksi kepada ‘koordinator’ pengemis yang menggunakan objek anak atau perempuan.

Tri mengungkapkan, beberapa pengemis ‘pindahan’ Ibu Kota dan daerah sekitar Tangsel, merasa nyaman mengais rejeki dengan cara mengemis dan mengamen di lampu merah-lampu merah, meski dengan jalan menjadi ‘manusia silver’.

“Karena kita melihat itu (pengemis dan pengamen anak) ada yang mengkoordinir. Perempuan yang menjadikan anak silver itu kan sampai sekarang belum tertangkap. Karena mereka berpindah-pindah tinggalnya,” kata Tri Purwanto, Selasa, (28/9/2021).

“Hasil pencarian data dan informasi, ibu dan anak yang diwarnai silver itu kan dari Jakarta, saya tanya kenapa tidak ngamen di Jakarta aja? Jawabannya si ibu, katanya enak (ngamen) disini. Kalau di Jakarta, ketangkap langsung dibawa pake mobil jeruji. Kalau disini paling lama dua hari, jika ada yang jemput dilepaskan,” tambahnya.

Tri memberikan beberapa catatan, terkait ‘anak silver’ yang viral belakangan ini. Menurutnya, perlunya aturan dalam memberikan sanksi kepada para pelaku pencari keuntungan, dengan menggunakan anak sebagai objek pengemis atau pengamen, agar penegakkan dan pemberian hukuman lebih terarah.

“Ternyata di Jakarta dan Kota Tangerang sudah ada Peraturan Daerah (Perda) tentang sanksi bagi gelandang, pengemis. Itu menjadikan efek jera. Mungkin menjadi usulan ke dinas untuk mendorong dibuatkan itu. Adanya koordinator dalam aksi manusia silver ini. Anak kecil yang dijadikan manusia silver itu, ternyata dibawa oleh teman ibunya. Sampai sekarang belum kita temukan keberadaan karena mereka berpindah pindah tinggal,” ungkap Tri.

Rehabilitasi yang berkelanjutan. Karena kemaren itu, ibu dan anak yang dijadikan manusia silver itu pernah direhabilitasi di Panti Sosial, tapi kenyataannya dia balik lagi kejalan. Maksud saya soal rehabilitasi berkelanjutan itu, selesai direhab, kita cari keluarganya, kita berikan pembekalan keluarganya. Kita berikan pelatihan dan modal untuk berusaha, usahanya kita pantau sampai mereka bisa maju dan mandiri,” tegas Tri.

Sebelumnya, viral di media sosial (Medsos) seorang bayi laki-laki berusia 10 bulan dicat silver oleh orang tuanya di Pom bensin Parakan, Pamulang, Kota Tangsel. Hal itu dilakukan demi meraih simpati dari para pengguna jalan agar dapat menyisihkan rezekinya. Dari pengakuan orangtuanya yang tak disebut namanya, diketahui bayi itu dicat dengan cat khusus yang dibelinya di salah satu toko sabun di Ciputat.

“Ini anak saya, suaminya lagi ngamen, (benar) pake (cat) silver terus pake minyak, belinya di toko sabun di Ciputat, nanti bersihnya pake sabun bayi. Anaknya cowo, masih nyusu cuma ga minum asi, Ini begini (cat silver dimuka bayi) kena tangan kita om, tadi mah bersih, ini aja pake jaket sama celana panjang,” ungkap orang tua bayi silver tersebut.