Senin, 26 Okt 2020 | WIB

Bareskrim Polri Grebek Karaoke Venesia BSD, Diduga Sediakan Layanan Seks Dan Lakukan Perdagangan Orang

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 20 Agustus 2020, 12:51 WIB
MCMNEWS.ID | Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Ferdy Sambo (kanan) memimpin penggerebekan karaoke eksekutif Venesia BSD di Serpong Sub District, Tangsel, Rabu (19/8) malam. (Dok: ANTARA/HO-Dittipidum Bareskrim Polri)

MCMNEWS.ID  –   Karaoke Eksekutif Venesia BSD yang berlokasi di Serpong Sub District, Kawasan BSD, Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) digerebek Tim dari Bareskrim Polri, Rabu malam, 19 Agustus 2020.

Penggerebekan karaoke eksekutif Venesia BSD tersebut dipimpin oleh Direktur TPU (Tindak Pidana Umum) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Ferdy Sambo, Karaoke tersebut diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), Rabu (19/8) malam.

Dugaan TPPO di karaoke itu dilakukan dengan modus eksploitasi seksual pada masa pandemi COVID-19.

Karaoke eksekutif tersebut diketahui telah beroperasi sejak awal Juni 2020. Tempat hiburan malam ini diduga memfasilitasi layanan seks bagi para pelanggannya.

Menurut Sambo, beroperasinya tempat hiburan itu melanggar Pasal 9 Ayat (1) dan (2) Peraturan Walikota Tangsel Nomor 32 Tahun 2020 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Walikota Tangsel Nomor 13 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Penanganan COVID-19.

“Pasal 9 Ayat (1) menyebutkan bahwa selama pemberlakuan PSBB, dilakukan penghentian sementara aktivitas bekerja di tempat kerja/ kantor,”ujar Sambo kepada wartawan, Kamis (20/08) dini hari.

Dalam penggerebekan itu, ditemukan 47 wanita yang bekerja sebagai pemandu lagu dan siap memberikan layanan esek-esek.

Di Kota Tangerang Selatan saat ini masih diberlakukan perpanjangan masa PSBB sejak 9 Agustus hingga 23 Agustus 2020. Sejumlah barang bukti yang disita penyidik Bareskrim di antaranya kwitansi dua bundel, satu bundel voucher ‘ladies’ tertanggal 19 Agustus 2020, uang Rp 730 juta yang merupakan uang bookingan ‘ladies’ mulai dari 1 Agustus 2020, tiga mesin EDC dan 12 kotak alat kontrasepsi.

Kemudian satu bundel form penerimaan ‘ladies’, satu bundel absensi ‘ladies’, tiga komputer, satu mesin penghitung uang, tiga printer, 14 baju kimono sebagai kostum pekerja dan dua lembar kwitansi hotel tertanggal 19 Agustus 2020.

back-to-top