Sabtu, 19 Sep 2020 | WIB

Bandingkan Dengan Kota Tangerang, Komisi III DPRD Sebut Kota Tangsel Belum Maksimalkan Pengelolaan Sampah

Avatar
Penulis: Andre Pradana
Diterbitkan: 05 Juni 2020, 18:06 WIB
MCMNEWS.ID | Dok. mcmnews

MCMNEWS.ID – Anggota Komisi III DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Emanuella Ridayati, menyebut, Kota Tangsel sampai saat ini belum mampu memaksimalkan potensi sampah, hal itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan Kota Tangerang.

Ia mengatakan, dengan luas dan jumlah penduduk yang tidak terpaut jauh dengan Kota Tangerang, Tangsel sampai saat ini hanya mampu memiliki puluhan armada sampah.

“Anggaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel sebesar Rp.107 Miliar, memiliki 40 armada sampah dan 150 tenaga pesapon. Sementara Kota Tangerang dengan anggaran Rp.172 Miliar memiliki 460 armada sampah dan 653 tenaga pesapon,” Kata wanita yang akrab disapa Rida, Jum’at, (5/6/2020).

Sementara untuk retribusi, Rida mengungkapkan, Kota Tangerang mampu membukukan retribusi dari sampah yang terbilang cukup besar.

“Kota Tangerang berhasil membukukan retribusi sampah sebesar Rp. 15 Miliar. Sangat miris dengan retribusi sampah Tangsel yang hanya sejumlah Rp. 3.25 Miliar, sangat jauh sekali dengan Tangerang,” Ungkap Rida.

“Sebagai perbandingan, luas Kota Tangerang dan Tangsel tidak terpaut jauh. Kota Tangerang 153,9 km2, dan Tangsel 147,3 km2. Penduduknya juga hampir sama Kota Tangerang 1.799.000 jiwa dan Tangsel 1.747.906 jiwa. Sementara sampah yang dihasilkan sekitar 1.500 ton per hari di Tangerang dan sekira 980 ton per hari di Tangsel. Yang diperlukan adalah kemauan politis dan penegakan hukum,” tambahnya.

Menurutnya, dengan perbandingan tersebut, Kota Tangsel jelas tidak memiliki good will soal pengelolaan sampah. Dikatakan Rida, ditambah saat ini TPA Cipeucang hanya menjadi tempat pembuangan akhir, yang jelas-jelas sudah melanggar fungsi awalnya.

“Informasi yang saya dapat, TPA Cipeucang itu sejatinya adalah Tempat Pemrosesan Akhir tapi ternyata hanya jadi pembuangan akhir tanpa ada proses sama sekali,” paparnya.

“Itupun kapasitas penanganannya hanya 380 ton per hari. Bisa dibilang pemerintah Tangsel abai terhadap lingkungan hidup dan harkat mendasar penduduk Kota Tangsel, yang konon bertajuk Cerdas, Modern dan Religius,” tandasnya.

back-to-top