Detail

12Th Kota Tangsel, Tokoh Pendiri Berkumpul Kritisi Kinerja Pemkot

Jumat, 27 November, 2020, 17:12 WIB
Penulis: Andre Pradana

MCMNEWS.ID – Kota Tangerang Selatan (Tangsel) genap berusia 12 tahun pada Kamis (26/11/2020). Diusia yang ke-12 tahun, Kota Tangsel dinilai masih memiliki banyak kekurangan.

Salah seorang tokoh pendiri Kota Tangsel, Yandra Doni mengungkapkan, dalam sektor kesehatan, Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany dinilai gagal.

Terlebih dengan adanya kasus korupsi yang terjadi di kota Tangsel terkait pengadaan alat kesehatan (alkes) beberapa tahun lalu.

“Korupsi alkes itu berpengaruh pada kesehatan semua, jadi kalau sendi utama kehidupan kita, kesehatan dan pendidikan itu dirampok, terus jaminannya apa, terus anda mau ngomong bahwa ini berhasil, anda mau ngomong ini lanjutkan, Lanjutkan korupsinya apa gimana?,” Tegas Doni, kepada Wartawan, Kamis malam, (26/11/2020).

Doni melanjutkan, dirinya juga menyoroti kategori Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang turun. Tak hanya itu, pembangunan Puskesmas disetiap Kelurahan yang juga belum terealisasi seluruhnya pun tak luput disoroti.

“Kalau rumah sakit kita kategorinya menurun, artinya tim akreditasi mengatakan bahwa Tangsel gagal dalam (sektor) kesehatan, jadi mulai RSUD, Puskesmas, semuanya berantakan karena kata kuncinya dikorup,” tuturnya.

Sementara itu, Tokoh Pegiat Tangsel, Heri Sumardi, menyatakan, ketimpangan pembangunan di Kota Tangsel sangat terlihat.

Dikatakan Heri, seperti halnya Ciputat sebagai Ibu Kota Tangsel yang sampai hari ini tidak juga dibenahi.

“Tetapi buat saya yang pasti, konsentrasi Airin itu hanya pada daerah-daerah yang sudah maju, sementara Ibu Kota Tangerang Selatan itu sendiri tidak dibenahi,” kata Heri.

“Banyak sekali kekurangan, Ciputat sebagai pintu masuk dari Jakarta menuju Tangerang Selatan, sudah bobrok sekali,” lanjutnya.

Selain itu, Heri juga menyoroti ketidak mampuan Airin mengelola Terminal untuk Kota Tangsel.

Menurutnya langkah Airin yang menyerahkan pengelolaan Terminal yang berdiri diatas tanah seluas 2,5 Hektar ke Badan Pengelolaan Transportasi Jabodetabek (BPTJ) adalah keliru.

“Ketimpangan itu masih bisa dilihat, bagaimana ketidakmampuan Airin membangun Terminal. Terminal yang dulu aset kita senilai hampir 2,5 Hektar kemudian diserahkan ke (pemerintah) pusat, ke BPTJ, kemudian sekarang di isi oleh bus yang memang berdiam di Lebak Bulus,” ungkap Heri.

Pria yang juga menjabat sebagai Sekjen Formats itupun menuturkan, seharusnya Terminal tersebut dikelola oleh Tangsel, hal itu lantaran, persoalan di Kota Tangsel salah satunya adalah angkutan.

“Semestinya Terminal itu tidak diserahkan ke BPTJ, kita kelola, karena memang persoalan di Tangsel salah satunya persoalan angkutan,” tambahnya.

“Misalnya angkot (Angkutan Kota, red) yang memang hari ini antara hidup dan mati, kan semestinya di analisa kalau angkot itu apakah jenis pendapatan rakyat yang harus ditingkatkan atau harus dimatikan, kalau memang mau dimatikan kan harus dialih fungsikan, kalau dialih fungsikan menjadi apa, kan sistem transportasi yang ditanggulangi oleh negara, oleh daerah harus ada. Banyak hal yang tidak dilakukan, mudah-mudahan (untuk) Walikota kedepan, persoalan-persoalan itu bisa tertata,” tandasnya.

Kirim Tulisan

Kirimkan tanggapan anda dan komentar anda yang berkaitan dengan keluahan pelayanan publik dan konsumen
Kirimkan suara anda

Tag Popular

#Corona

#Gempa Bumi

#Bencana Alam

#Banjir

#PSBB DKI Jakarta