Selasa, 29 Sep 2020 | WIB

Selami “Jaman Edan” Serat Kalatidha Ranggawarsita Dalam Konteks Kekinian

Avatar
Penulis: Solihin
Diterbitkan: 08 Januari 2020, 10:46 WIB
MCMNEWS.ID | (Dok : Ilustrasi)

MCMNEWS.ID – Serat Kalatidha Ranggawarsita dikenal masyarakat Jawa sebagai ramalan datangnya zaman edan (rusak).

Syair Serat Kalatidha terdiri atas 12 bait dari tembang macapat sinom.

Raden Ngabei Ranggawarsita, pujangga Karaton Surakarta dikenal dengan karya sastranya pada abad ke-19. Kalatidha adalah salah satu karya sastra yang dikenal hingga saat ini seperti sebuah ramalan dari sang pujangga. Jaman edan, yang ia tulis dalam syairnya merujuk pada penggambaran keadaan zaman yang rusak. Edan dalam bahasa Indonesia berarti gila, oleh Ranggawarsita digunakan untuk menggambarkan keadaan dengan pelanggaran aturan dan norma yang parah dan sistematis. Persis seperti kondisi bangsa Indonesia saat ini.

Barangkali saat ini kita telah mengalami situasi dan kondisi masyarakat yang disebut dengan “jaman edan”.  Situasi yang dirasakan oleh kebanyakan orang sebagai situasi yang tidak menentu, penuh kecemasan dan ketidak pastian.

Di jaman edan, orang pandai belum tentu sukses, dan orang bodoh belum tentu sengsara (yang penting adalah berani). Yang sukses adalah orang yang cerdik dan licik, sedangkan orang jujur meski pekerja keras hidupnya sengsara. “Jujur ajur, ala mulya” begitulah pepatah jawa dalam menggambarkan jaman edan, yang maknanya orang jujur malah bisa jadi hancur karena ditinggalkan orang-orang sekitarnya (yang tidak beres moralnya) dan sebaliknya, orang “ala” (tidak baik moralnya) malah kehidupannya bisa jadi baik, karena berani berbuat dengan menghalalkan segala cara.

Di jaman edan, orang kaya makin kaya, sementara orang miskin semakin sulit untuk memperoleh kehidupan. Ingin mendapat pekerjaan apalagi jabatan harus menyuap. Maka hanya orang-orang kayalah yang akhirnya mudah mendapatkan pekerjaan dan jabatan. Sementara orang-orang miskin semakin terpinggirkan. Itulah konsekuensi logis dari sistem liberalisme dan kapitalisme. Orang kaya mengeksploitasi orang miskin.

Di jaman edan, korupsi ada dimana-mana. Korupsi justru dilakukan oleh orang yang sudah kaya. Mereka terus menerus menguras uang negara. hartanya sudah bertumpuk namun masih saja merasa kurang dan kurang. Tanpa peduli dengan penderitaan orang miskin. Keserakahan telah menutupi hati nuraninya.  Empati dan kepedulian sudah luntur dari qalbunya.

Di jaman edan, moral tidak dipentingkan lagi. Tidak ada persahabatan dan tidak ada kawan abadi, yang ada adalah kepentingan. Kawan bisa menjadi lawan, dan yang tadinya lawan bisa menjadi kawan asalkan menguntungkan. Syahwat dibiarkan tanpa kendali.

Serat Kalatidha adalah sebuah karya sastra Jawa karangan Ranggawarsita, yang ditulis sekitar tahun 1860 Masehi. Ranggawarsita adalah pujangga terakhir dari kasunanan/kerajaan Surakarta. Konon Ranggawarsita menulis syair ini karena suatu kekecewaan, ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Penyebabnya adalah ketidak adilan, krisis yang terjadi disegala lini dan ia menyebutnya sebagai gila/edan.

Secara historis, Ranggawarsita hidup dan mengabdi sebagai pujangga Keraton Surakarta di masa Raja Paku Buwana IX. Pujangga dapat diartikan sebagai orang yang memiliki kewenangan menulis puisi, surat, cerita menurut perintah rajanya. Otomatis apa yang ditulis oleh orang pujangga keraton harus merefleksikan kebesaran dan legitimasi kekuasaan sang raja.

Kalatidha merupakan sebuah syair yang sangat termashur. Ketenaran Serat Kalatidha juga mencapai kota Leiden, Belanda. Di sana petikan dari Serat Kalatidha dilukis di tembok sebuah museum.

Serat Kalatidha bukanlah ramalan seperti Jangka Jayabaya. Serat Kalatidha adalah sebuah syair yang terdiri dari 12 bait, berisi falsafah atau ajaran hidup Ranggawarsita. “Kala” berarti “jaman” dan “tidha” adalah “ragu”. Kalatidha berarti jaman penuh keraguan. Walau demikian banyak yang memberi pengertian “Kalatidha adalah jaman edan” mengambil makna dari bait ke tujuh serat ini, bait yang sangat popular.

Kebanyakan orang hapal bait ketujuh ini secara tidak lengkap. 

“Amenangi zaman édan; Mélu ngédan nora tahan; Yén tan mélu anglakoni boya kéduman; Begja-begjaning kang édan; 

Luwih begja kang éling klawan waspada”, 

artinya 

“Berada pada zaman édan; Kalau ikut édan tidak akan tahan; Tapi kalau tidak ngikuti édan tidak kebagian; Sebahagia-bahagianya orang yang édan;  Akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.”

Bait ke-tujuh serat ini menggambarkan situasi “edan” saat itu dan ajakan untuk mawas diri. Makna dari bait ke tujuh adalah sebagai berikut: Mengalami hidup pada jaman edan; memang serba repot; Mau ikut ngedan hati tidak sampai; Kalau tidak mengikuti; Tidak kebagian apa-apa; akhirnya malah kelaparan; namun sudah menjadi kehendak Allah; Bagaimanapun beruntungnya orang yang “edan”; Masih lebih beruntung orang yang “ingat” dan “waspada”.

Jika saat itu Ranggawarsito saat masih hidup merasa zamannya sudah gila, lalu bagaimana dengan zaman ini? Zaman yang penuh dengan hoax, pencitraan, kebencian, kejahatan merajalela, pemimpin yang mengumbar kemewahan padahal rakyat menangis. Apakah lebih baik? Lantas, zaman apakah yang pantas untuk disematkan?

(solihin)

back-to-top