Detail

Liem Swie King, Legenda Bulutangkis Indonesia yang Memperkenalkan ‘Jumping Smash’

Wednesday, 15 September, 2021, 10:01 WIB
Penulis: Irfan

MCMNEWS.ID – Liem Swie King, nama tersebut adalah salah satu atlet yang menjadi idola bagi para pecinta bulutangkis di Tanah Air. Di era tahun 70an hingga 80an, nama King bersama dengan Rudy Hartono hampir selalu dielu-elukan khususnya di nomor tunggal putra.

King, begitu sapaannya, merupakan salah satu generasi awal yang membawa nama Indonesia mendunia di pentas bulutangkis. Publik tentu masih ingat, final legendaris di All England 1976, saat ia harus melawan seniornya di pelatnas timnas, Rudy Hartono.

Namun, King kalah dua gim langsung dari Rudy dengan angka 7-15, dan 5-15. Muncul kontroversi usai partai itu, yang menyebut King diminta mengalah dari Rudy.

Perihal itu, King enggan menjawab pertanyaan. Ia hanya mengaku menyesal gagal juara lantaran sedang berada di puncak prestasi.

“Aku memang sangat menyesal aku tidak menjadi juara All England 1976. Padahal aku merasa di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit,” ujar King dalam buku “Panggil Aku King” yang ditulis Robert Adhi KSP.

Meski kecewa, Liem Swie King sukses membalas dendam di All England 1978, 1979, dan 1981 dengan keluar sebagai juara. Tiga gelar itu termasuk ke dalam 20 gelar individu yang diraihnya.

Selain itu, Liem Swie King juga ikut mempersembahkan gelar di kategori beregu antara lain juara Piala Thomas, dan juara Asian Games. Total, King telah meraih sembilan gelar di kategori tersebut.

Nah, Berbicara soal Liem Swie King, tak lengkap jika tak menyebut julukan King Smash. Julukan itu diberikan lantaran permainan King yang eksentrik, cepat, dan berani, dan tentu saja lantaran memiliki smash yang keras.

Jumping smash King memang begitu ikonik, bahkan diakui sebagai pukulan paling agresif di bulu tangkis. Dalam melakukan aksinya, King akan melakukan lompatan vertikal lalu memukul shuttlecock dengan smash-nya yang penuh tenaga.

Smash andalan King itu akan membuat shuttlecock meluncur dan menukik tajam sehingga menyulitkan lawan.

Di era milenial pun, teknik jumping smash yang diciptakan Liem Swie King, banyak ditiru oleh atlet buutangkis kelas dunia.

Liem Swie King memutuskan untuk pensiun atau gantung raket pada 1988 silam (32 tahun). King dikenang sebagai legenda bulutangkis Indonesia yang kerap mengharumkan nama bangsa dipentas internasional atau dunia.

Atas prestasinya itu ia sempat dibuatkan film khusus dengan judul ‘King’ pada 2009. Tak hanya itu King juga membuat buku dengan judul ‘Panggil Aku King’.

Sehabis itu, King terjun ke ranah bisnis dengan mengelola hotel dikawasan Jakarta milik mertuanya. Usai sukses dibidang perhotelan King mencoba usaha lain.