Detail

Modernisasi Alutsista Telan Anggaran 1,7 Kuadriliun, DPD RI: Harus Dikaji Secara Komprehensif

Rabu, 2 Juni, 2021, 15:32 WIB
Penulis: Ginan

MCMNEWS.ID – Wakil Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin, mendukung langkah Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang akan melakukan memodernisasi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista).

Kendati demikian, Sultan meminta pemerintah mengkaji secara komprehensif rencana yang dikabarkan akan memakan anggaran sebesar 1.7 Kuadriliun tersebut.

“Kita sangat mendukung langkah Kemenhan, hanya saja sebelum direalisasikan agar pemerintah dapat mengkaji secara komprehensif terhadap rencananya melalui Kementerian Pertahanan yang merancang modernisasi alat utama sistem senjata alutsista dengan anggaran hingga Rp1.760 triliun itu,” kata Sultan dalam keterangan tertulis yang diterima Mcmnews.id, Rabu, (2/6/2021).

Sultan menjelaskan, dalam kontraksi ekonomi yang sedang terjadi, baginya banyak sektor lain yang mesti mendapatkan prioritas dari pemerintah. Seperti digunakan untuk kebutuhan bangsa dalam bidang ekonomi, sosial budaya pendidikan, kesehatan, hingga teknologi.

“Kita harus menyamakan cara pikir terhadap definisi perang dan sekaligus memetakan tantangan yang terjadi pada era saat ini seperti ancaman pertahanan dan kedaulatan negara kini yang lebih halus seperti penguatan ekonomi-bisnis, lewat ketergantungan terhadap impor serta investasi asing, melalui soft power seni-budaya, lewat ketergantungan sains-teknologi,” tegasnya.

Senator muda asal Bengkulu itupun menyebut, perlu adanya cara pandang yang sama terhadap potensi ancaman dari musuh yang sedang kita hadapi.

Karena dari situ, lanjut Sultan, kita akan menetapkan tentang ‘alat’ yang benar-benar kita butuhkan dalam mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Baik melalui regulasi ataupun persenjataan yang akan dipenuhi.

Menurut Sultan, dalam konteks membangun ketahanan nasional aspek pertahanan keamanan, maka penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan teknologi merupakan cara tepat untuk mengantisipasi dan menghadapi ancaman militer maupun ancaman nir militer.

“Selain kemungkinan perang konvensional, saat ini kita sekarang memasuki era Perang Modern, yaitu suatu bentuk perang yang dilakukan secara nirmiliter dari negara maju atau asing untuk menghancurkan suatu negara tertentu melalui bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan”, ungkap Sultan.

Bahkan Sultan mengungkapkan bahwa dampak dari Perang Modern lebih dahsyat dari perang konvensional, karena negara sasaran akan dihancurkan secara sistemik dan akhirnya negara sasaran tidak eksis lagi menjadi negara bangsa.

Disebutkan Sultan, bahwa dampak ekonomi sudah terasa sejak bulan Februari 2020 dimana aktivitas ekonomi, terutama pariwisata dunia, transaksi perdagangan dunia, berdampak pada ekonomi global dan juga akibat kebijakan pembatasan sosial berskala besar yang mulai diberlakukan pada awal Maret 2020.

“Gelombang PHK akibat pembatasan sosial dan transaksi ekonomi yang mengalami pelambatan dan bahkan stagnasi, mengakibatkan dampak yang sangat besar bagi aspek sosial,” sebutnya.

“Karena ini berkaitan terhadap neraca keuangan negara, konsekuensinya adalah rencana pembelian atau modernisasi Alutista ini mesti dikaji dari seluruh (aspek prioritas) dari realitas ancaman yang ada. Apakah dengan adanya persenjataan yang mahal dan canggih dapat dipastikan efisien untuk untuk melindungi kedaulatan negara dengan seluruh ancaman yang ada,” tandasnya.