Melawan Potensi Proxy, KOMANDO Dorong Sinergisitas Antara TNI-Polri-Mahasiswa
Selasa, 10 November 2020, 13:14 WIB
Penulis : Andre Pradana
MCMNEWS.ID | Sekretaris Jenderal (Sekjen) ARUN Bungas Thomas Fernando Duling (tengah). Dok: Andre
MCMNEWS.ID – Pasca disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020, dinilai berpotensi menimbulkan kembali adanya gejolak ditengah-tengah masyarakat.
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Advokasi Rakyat Untuk Nusantara (ARUN), Bungas Thomas Fernando Duling, dalam acara Dialog Kebangsaan dengan tema TNI, Polri, dan Mahasiswa Dalam Sinergisitas Melawan Potensi Proxy War, disalah satu Restoran dibilangan BSD, Selasa, (10/11/2020).
Nando, sapaan akrabnya, mengatakan, saat ini semua pihak sedang ramai membahas soal kesalahan pengetikan pada pasal 6 UU Cipta Kerja. Menurutnya, hal itu justru akan menimbulkan adanya ketidak percayaan dari masyarakat.
“Faktanya hari ini, itu semua ramai menjadi pembahasan bagi semua pihak, baik itu mahasiswa, akademisi, maupun pengusaha,” kata Nando.
Pria yang juga merupakan eksponen 98 itupun mengingatkan agar kedepannya, semua pihak tidak mengabaikan segala macam potensi yang dapat terjadi pasca disahkannya UU Cipta Kerja.
“Tantangan kedepan didalam fenomena potensi, tolong jangan diabaikan, bahwa dalam UU Cipta Kerja, (khususnya) di pasal 6 membahas soal investasi,” jelasnya.
“Didalam Pasal 6 tersebut lebih kepada tidak adanya kepastian hukum,” tambah Nando.
Dengan demikian Nando mengungkapkan, sinergisitas antara TNI, Polri dan Mahasiswa dinilai mampu untuk menghadapi adanya potensi proxy.
“TNI, Polri dan Mahasiswa adalah ketiga komponen terbaik dalam menghadapi potensi terdekat yaitu proxy war,” tegasnya.
“TNI dengan tentara rakyat, Polri dengan Tribrata, dan Mahasiswa dengan Tridharma Perguruan Tinggi nya” tambahnya.
Sementara itu, Kasipers Kasrem 052/WKR, Kolonel Inf Harrisal Ismail Subing, dalam paparannya mengungkapkan, bahaya proxy war dalam keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan demikian, dikatakan Harrisal, pihaknya akan terus melakukan langkah-langkah antisipasi.
“(Dalam menghadapi proxy) Perlu kita cantumkan wawasan kebangsaan bagi kita. Proxy sendiri yaitu Konfrontasi menggunakan pihak ketiga, kurang lebih begitu,” katanya.
Kasipers Kasrem 052/WKR, Kolonel Inf Harrisal Ismail Subing. Dok: Andre
Dalam acara tersebut dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan Universitas Unpam (Unpam) yang tergabung dalam Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (Komando), serta Pelajar yang tergabung dalam Komite Pergerakan Siswa Independen (Kompersi).