Selasa, 22 Sep 2020 | WIB

Indonesia Kembali Jadi Presiden Dewan Keamanan PBB, Menlu Retno Paparkan 3 Agenda Utama

Bang Noy
Penulis: Bang Noy
Diterbitkan: 24 Juli 2020, 18:15 WIB
MCMNEWS.ID | (Dok: Ilustrasi)

MCMNEWS.ID  –    Selain merayakan hari kemerdekaan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan, Agustus 2020 merupakan bulan yang sangat spesial bagi Indonesia. Indonesia kembali menjadi Presiden Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB).

“Agustus tahun ini merupakan bulan yang sangat spesial bagi Indonesia. Agustus tahun ini kita memperingati 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Selain itu, pada Agustus tahun ini, Indonesia juga memegang presidensi DK PBB,” kata Retno dalam konferensi pers virtual yang digelar Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kamis (23/7/2020).

Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengungkapkan Indonesia kembali terpilih menjadi Presiden Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Sebagai Presiden DK PBB 2020, Indonesia akan mengusung tema Advancing Sustainable Peace atau Memajukan Perdamaian yang Abadi.

Menlu Retno Marsudi menjelaskan, presidensi di DK PBB ini merupakan yang kedua bagi Indonesia, setelah pada Mei 2019 juga memegang posisi yang sama dengan mengambil tema Investing in Peace atau menabur benih perdamaian. 

“Perdamaian bukan sesuatu yang dapat hadir dengan sendirinya, tapi harus terus disemai, dipelihara terus-menerus,” ujar Retno. 

“Oleh karena itu, sebagai kelanjutan dari tema presidensi tahun lalu, maka presidensi tahun ini Indonesia mengambil tema Advancing Sustainable Peace atau ‘Memajukan Perdamaian yang Abadi’,” ucapnya.

Selain itu, Retno juga menyebutkan hal yang membedakan dengan presidensi 2019, yakni presidensi Indonesia di Dewan Keamanan PBB pada 2020 dijalankan di tengah pandemi Virus Corona COVID-19.

“Presidensi Indonesia tahun ini ingin menekankan bahwa pada saat hampir semua energi dan perhatian kita terusap pada upaya penanganan pandemi, jangan sampai kita terlupa untuk terus memajukan perdamaian, karena perdamaian tetap merupakan prasyarat utama bagi kesuksesan kita menangani pandemi dan percepatan pemulihan ekonomi,” papar Retno. 

Negara-negara yang tergabung dalam DK PBB, akan bergantian setiap bulannya untuk menduduki kursi Presiden Dewan Keamanan.

Retno memaparkan tahun ini Indonesia akan melaksanakan tiga kegiatan utama. Selain itu, Indonesia akan memimpin setidaknya 14 pertemuan yang membahas upaya perdamaian di berbagai belahan dunia.

Kegiatan utama pertama, yaitu Meeting on the Linkage of Counter Terrorism and Organized Crimes. Kegiatan tersebut akan diselenggarakan pada 6 Agustus 2020.

“Pertemuan ini akan membahas laporan perdana Sekjen PBB mengenai penanggulangan terorisme dan kejahatan lintas batas,” ucap Retno.

Acara kedua adalah Meeting on Pandemic and the Challenges of Sustaining Peace. Acara ini akan digelar pada 12 Agustus 2020.

“Pertemuan ini dimaksudkan untuk menyatukan langkah keamanan DK PBB dalam menjaga perdamaian di tengah pandemi. Hingga saat ini belum ada pembahasan terkait hal ini di DK PBB,” ungkapnya.

Kegiatan utama yang ketiga adalah Area Formula of Cyber and Protection of Civilian yang diselenggarakan pada 26 Agustus 2020. Retno menyebut Indonesia akan memberikan perhatian khusus terhadap maraknya kejahatan siber dalam infrastruktur sipil, seperti rumah sakit.

“Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap isu ini, karena semakin maraknya serangan siber kepada infrastruktur sipil, seperti rumah sakit dan bandara, termasuk di masa pandemi,” papar Retno.

Sebagai Presiden DK PBB 2020, Indonesia punya target, yang meliputi penanggulangan terorisme, khususnya isu persekusi, rehabilitasi dan reintegrasi (PRR), serta perdamaian perempuan.

“Terkait PRR, Indonesia bermaksud mendorong pendekatan yang komprehensif dalam penanganan terorisme, sehingga DK PBB tidak hanya fokus pada aspek penegakan hukum, tetapi juga upaya rehabilitasi dan reintegrasi para pelaku terorisme ke masyarakat,” ucap Retno.

“Outcome documents kedua yang diupayakan terkait dengan women peace diverse. Indonesia ingin mendorong peningkatan jumlah women peace diverse, serta mendorong implementasi integrasi perspektif gender dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB,” sambung dia.

back-to-top