Sabtu, 19 Sep 2020 | WIB

Hanya Larang Ipar Maju Tapi Dukung Gibran, Jokowi Di Nilai Terapkan Standar Ganda

Bang Noy
Penulis: Bang Noy
Diterbitkan: 28 Juli 2020, 22:55 WIB
MCMNEWS.ID | (Dok: Istimewa)

MCMNEWS.ID – Aktivis 98, Dedi Gunawan, menyayangkan berbedanya sikap yang diambil oleh Presiden Joko Widodo terkait majunya keluarga dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak pada Bulan Desember 2020 mendatang.

Jokowi diberitakan sempat melarang iparnya, Wahyu Purwanto untuk maju di Pilkada Gunungkidul. Namun tidak melarang putranya, yakni Gibran Rakabuming Raka yang maju dalam memperebutkan kursi nomor satu di Kota Solo.

Dedi menyebut, menurutnya sikap yang diambil Jokowi tersebut adalah standar ganda.

“Bagaimana mungkin ada perlakuan berbeda terhadap para anggota keluarga yang maju dalam Pilkada serentak,” kata Dedi, Selasa (28/7/2020).

Aktivis 98, Dedy Gunawan.

Ia menyebut, sikap yang diambil oleh Jokowi seolah seperti sedang berhitung. Dikatakan Dedi, cuma yang potensial menang yang akan diberi restu olehnya. Sementara untuk yang masih ‘fifty-fifty’ tidak dia dukung.

“Potensi Gibran menang kan besar di Solo, makanya Jokowi dukung habis. Sampai memanfaatkan fasilitas negara, memanggil kompetitor Achmad Purnomo ke Istana,” sebut alumni IISIP Jakarta.

“Di Istana, Jokowi menyampaikan bahwa yang diusung PDIP itu Gibran. Supaya tidak kecewa, Purnomo ditawarkan jabatan. Ini kan masuk suap. Sudah berapa pelanggaran yang dilakukan Jokowi,” tandasnya.

Iwan Sumule. (Dok: Istimewa)

Sementara itu, Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (Prodem), Iwan Sumule, mengungkapkan, sikap Jokowi yang dinilai standar ganda membuat dirinya kecewa.

“Ngenes, rasa kecewa yang muncul ketika apa yang kita peroleh tidak sesuai harapan. Bisa dibilang korban PHP (Pemberi Harapan Palsu, Red). Kata yang pantas diberikan kepada orang yang di-PHP adalah, kasian deh lo,” tandasnya.

back-to-top