Jumat, 25 Sep 2020 | WIB

Ada Unsur Politis, Kuasa Hukum Luruskan Kabar Pemecatan Ruslan Buton Bukan Karena Kasus Pembunuhan

Bang Noy
Penulis: Bang Noy
Diterbitkan: 01 Juni 2020, 14:44 WIB
MCMNEWS.ID | Kuasa Hukum Ruslan Button, Tonin Tachta Singarimbun. (Dok : Tribunnews.com)

MCMNEWS.ID –  Fakta baru terkait kasus yang dialami Ruslan Buton diungkap kuasa hukum, Tonin Tachta Singarimbun.

Tonin mengatakan bahwa Ruslan Buton saat itu menjabat sebagai Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau yang Menolak TKA China masuk di Maluku.

Menurutnya, pemecatan terhadap kliennya tersebut bernuansa politis. Pada 2017 lalu, ketika masih menjabat kliennya kerap bertindak tegas terhadap adanya Tenaga Kerja Asing (TKA) China masuk ke daerahnya.

“Ruslan Buton pernah menangkap lima TKA asal China yang menggunakan visa turis pada 2017. Ternyata pada waktu itu dia sempat coba disuap sejumlah uang oleh petugas atau pejabat untuk melepaskan lima TKA tersebut,” Kata Tonin, Senin (1/6), seperti dikutip dari Tribunnews.com.

Pada saat itu, sambung Tonin, tawaran suap ditolak secara tegas oleh Ruslan dengan berkata:

“Kalau uang itu tidak ada kaitan dengan ke-5 TKA maka akan saya terima, tapi kalau uang tersebut untuk melepaskan ke-5 TKA maka akan saya tolak.”

“Dan ternyata petugas atau pejabat tersebut sekarang menempati posisi penting di era Pemerintahan Presiden Jokowi” ujar Tonin.

Penolakan melepas TKA China inilah yang diduga menjadi penyebab kliennya kemudian diincar agar turun dari jabatannya.

Sebab, 4 bulan setelahnya, markas sekaligus asrama TNI yang dipimpin Ruslan Buton diserang oleh seorang pria yang diketahui bernama La Gode.

“Dia serang markas, terus kalau serang markas dibiarin? nyerang markas tentara. Itu asrama lah tapi ada kesatuannya juga,” sambungnya.

La Gode pun terbunuh saat menyerang markas TNI AD tersebut.

“Yang dibunuh ini (La Gode, red) bukan petani. Yang dibunuh ini preman, sudah dua kali bunuh orang itu. Dia Narapidana. Keluar masuk penjara,” ungkap Tonin.

“Dia (La Gode) serang markas, terus kalau serang markas dibiarin? Nyerang markas tentara. Itu asrama lah tapi ada kesatuannya juga,” sambungnya.

Diketahui saat menjabat Komandan Kompi sekaligus Komandan Pos Satgas SSK III Yonif RK 732/Banau, Ruslan terlibat dalam kasus pembunuhan La Gode pada 27 Oktober 2017.

Kasus kematian La Gode inilah yang kemudian menyeret Ruslan ke mahkamah militer, Pengadilan Militer Ambon memutuskan hukuman penjara 1 tahun 10 bulan dan pemecatan dari anggota TNI AD kepada Ruslan pada 6 Juni 2018 lalu.

back-to-top