Jumat, 10 Jul 2020 | WIB

Keangkeran Alas Ketonggo Ngawi

Avatar
Penulis: Solihin
Diterbitkan: 22 Desember 2019, 18:17 WIB
MCMNEWS.ID | Alas Ketonggo

MCMNEW.ID | ALAS KETONGGO, Eyang Srigati adalah Priyagung, seorang begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunken Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya.

Semua kisah Spiritual tertuang di Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron. Kab. Ngawi.

NGAWI. Alas Srigati ataupun dikenal dengan sebutan alas Ketonggo merupakan tempat yang bersejarah menurut dari legendanya. Dengan adanya daya tarik tersendiri itulah seperti biasanya pada saat 1 Muharam atau pergantian malam bulan hijriyah selalu dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Sejak waktu mulai beranjak malam para pengunjung mulai berdatangan, mereka ada yang datang dengan cara berkelompok dan perseorangan. Terlihat dari plat nomor mobil yang dipakai pengunjung dapat dinyatakan mereka berasal mulai daerah Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya dan daerah terdekat dengan Ngawi seperti Nganjuk, Kediri dan Malang. Acara ritual yang dilakukan para pengunjung di Alas Srigati waktunya pun bervariasi mulai tengah malam sampai waktu shubuh. Dan begitu juga tempatnya berlainan karena dilokasi Alas Srigati sendiri ada sekitar 12 lebih tempat petilasan.

Seperti Punden Krepyak Syeh Dombo atau Palenggahan Agung Brawijaya, Padepokan Kori Gapit, Palenggahan Watu Dakon, Sendang Drajat, Sendang Mintowiji, Goa Sido Bagus, Sendang Suro, dan Kali Tempur. Menurut juru kunci Alas Srigati, Ki Among Jati menjelaskan secara rinci, para pengunjung yang datang di Alas Srigati biasanya mereka ingin napak tilas mengenang sejarah dimana Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V singgah terlebih dahulu di Alas Srigati untuk melepaskan baju kebesarannya sebelum melanjutkan perjalanan ritual ke puncak Gunung Lawu.

Lanjut Ki Among Jati, pengunjung di Alas Srigati tidak melakukan hal-hal yang sifatnya syirik, seperti menyembah punden segala macam. Akan tetapi para pengunjung melakukan ritual mengambil tempat Alas Srigati hanya sebagai tempat perantara untuk menyambung segala permintaan kepada Allah SWT. Seperti terlihat di Palenggahan Agung Brawijaya pengunjung sambil membakar dupa sebagai bentuk permintaan dan do’a kepada Yang Maha Kuasa.

”Disini pengunjung mempunyai berbagai permintaan untuk dikabulkan dari Yang Maha Kuasa, seperti minta kesehatan, keselamatan dan masih banyak lagi dan jangan dianggap di Alas Srigati ini melakukan hal-hal yang menyimpang dan untuk hari biasa yang ramai dikunjungi yaitu pada hari malam Jum’at Kliwon, Jum’at Legi dan malam Selasa Kliwo” jelas Ki Among Jati. S

ementara kilas balik dari sejarah ditemukannya petilasan Srigati merupakan dari jasa mantan Kepala Desa Babadan pada tahun 1963 yaitu Somo Darmodjo kemudian tahun 1974 didatangai Gusti Dorodjatun IX menyatakan benar bahwa petilasan Punden Krepyak Syeh Dombo merupakan bagian dari sejarah dari Majapahit.

Saat itu Prabu Brawijaya melakukan perjalanan menuju puncak Gunung Lawu dan oleh Gusti Dorodjatun IX dinamakan dengan sebutan Srigati. Namun, dengan adanya wisata religi Alas Srigati tidak dibarengi pengembangan potensi yang ada seperti fasilitas jalan yang menuju lokasi Alas Srigati yang kondisinya sangat rusak terlihat disana-sini berlubang.

Alhamdulilah dari tahun 2011 jalan menuju ke alas srigati atau ketonggo sudah mulai di perbaiki, begitu pula gerbang pintu masuk, warung, mushola dan prasarana lainnya. Alas Ketonggo, “alas” berarti hutan, dasar pokok atau keramaian. Ketonggo berasal dari kata “katon” (terlihat) dan “onggo” (makhluk halus) atau makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan. Siapapun yang meyakini kekuasaan Tuhan harus meyakini adanya alam rohani, tempat kehidupan makhluk-makhluk rohani atau gaib.

Ada kehidupan setelah terjadi kematian, yaitu alam kehidupan gaib atau alam rohani bagi para arwah yang telah meninggalkan dunia atau alam kehidupan jasmani. Mengapa alas ketonggo menjadi sinandi pencerahan rohani dan jasmani beserta kejayaan umat manusia, di dalam pengetahuan luhur budaya Jawa? Alas walaupun disebut hutan yang oleh beragam makhluk hidup seperti pepohonan, hehewanan serta makhluk halus yang berasal dari arwah-arwah para leluhur masa silam, sebagai ekspresi fenomena hawa dan nafsu kita semua, yang liar dan terkendali. Sinandi alas ketonggo sebagai sinandi kehidupan jagat cilik (hawa dan nafsu-kita) dan jagat gedhe (alam semesta). Alas ketonggo dalam pengertian jagat cilik adalah fenomena kehidupan kita, yang pada dasarnya sulit dikendalikan tetapi harus mampu kita kendalikan. Sedangkan alas ketonggo dalam arti makro atau dalam pengertian nyata, seperti Kraton beserta Raja-nya sebagai sentral budaya, tempat-tempat yang dimitoskan atau disakralkan dalam kegiatan peziarahan. Arti pesan yang mendalam bahwa kita tidak boleh meninggalkan budaya dan sejarah masa lalu. Alas Ketonggo tempat arwah-arwah para leluhur yang telah meninggalkan dunia puluhan hingga ratusan tahun, namun belum berpulang dihadirat Tuhan, dan masih menyimpan rapi di dalam tubuh halus maniknya.

Banyak pengetahuan masa silam yang sebagai simbol jati diri dan identitas bangsa-mu di Alas Ketonggo. Oleh itu, kehidupan para arwah leluhur masih aristokrat, sesuai peradaban budayanya lalu. Peradaban budaya beserta nilai-nilai luhur masa silamnya menyimpan potensi kekuatan identitas dan jati diri bangsa-mu. Apabila bangsa-mu ingin jaya dan menjadi terang dunia harus berpijak pada budaya atau jati diri dan identitasmu.

Jangan melupakan sejarah atau budaya leluhur-mu, jika melupakan sejarah dan budaya-mu dari situlah kelemahan bangsa-mu. Pahamilah sandi Alas Ketonggo, sebab dialah yang menyimpan sejarah, rahasia dan kenangan masa lalu yang membantu dirimu untuk menemukan jati diri dan identitasmu. Bukankah bangsamu mengalami krisis keyakinan dan kepercayaan akan jati diri dan identitasmu. Artinya bangsamu telah asing mengenali potensi dirinya.. Bahkan bangsamu tidak mengetahui dan menyadari kekrisisannya.

Itulah bencana akibat meninggalkan pilar dan pondasi budayanya. Negara dan bangsa manapun akan mengalami kejayaan jika telah menemukan jati diri dan identitasnya (budayanya) dan itu tersimpan dalam sandi Alas Ketonggo. Walaupun sandi Alas Ketonggo disebut dan dikatakan mitos bagi pemahaman modern, tetap mereka jaya sebagai pusat pemikiran dikarenakan berangkat dari mitos atau yang disebut angan-angan, harapan, cita-cita, impian, dll. Bangsa manapun tidak akan maju dan jaya jika meninggalkan angan-angan, harapan, cita-cita, keinginan, kehendak, harapan, impian yang kesemuanya adalah simbol mitos.

Lihatlah bangsa-bangsa yang telah jaya, mereka mengawali kejayaa jugannya dengan kesadaran kolektif mitosnya di dalam jiwa pikiran, perasaan, budi dan perilaku indera jasmaninya atau cipta, rasa dan karsanya. Alas Ketonggo sandi untuk menggali jati diri dan identitasnya sebagai awal mengumpulkan kekuatan untuk terbebaskan dari kesengsaraan, derita, ketidaktentraman dan ketidakdamaian, ketidakmakmuran, kemiskinan dan belenggu bangsa-mu.. Bangsa yang telah jaya menggali budaya asalnya sendiri melalui prosesi sinandi alas ketonggo dengan menghormati perjuangan leluhurnya.

Bagaimana bangsamu atau dirimu akan mendapatkan pencerahan dan kemerdekaan hidup bagi bangsamu, jika dirimu saling berjuang demi kepentingan dan kekuasaan kelompok-mu. Salah satu nasehat sinandi Alas Ketonggo,“Janganlah energi jiwa hawa dan nafsumu saling bertubrukan menyalakan api kesengsaraan yang menambah dirimu atau bangsamu saling terbelenggu dan membelenggu”.Jika energi jiwa hawa dan nafsumu saling bertubrukan atau bertabrakan maka dirimu akan saling memiliki kebingungan, saling memiliki kekhawatiran, saling memiliki ketakutan, sekalipun hal itu terungkap atau tidak terungkap. Masuklah ke alam alas ketonggo, disitulah banyak pengetahuan yang mengisi kekurangan dan kelemahanmu, agar dirimu tidak mudah bingung, takut, khawatir, menderita dan sengsara, dll.

Jika dirimu mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, ambillah potensi lebihnya dan jadikan kelemahannya menjadi hikmah, agar dirimu trampil menghimpun kekuatan dan mengerti keinginan dan kehendak energi hawa dan nafsu untuk menyelamatkan generasi muda bangsa-mu.”Jika telah mampu membuka sinandi Alas Ketonggo, para leluhurmu akan berinteraksi denganmu dan memberikan pengetahuan yang memubuat bangsa-mu jaya dan maju. Memasuki alas ketonggo diperlukan seni ketrampilan melepaskan belenggu tubuh jasmani, jika tidak memiliki hanya akan dapat kesunyian dan aktivitas kesendirian tanpa arti dan makna seperti melamun atau menghayal. Alangkah lebih lengkapnya jika dirimu yang memiliki kecerdasan akal jasmani, kemudian memiliki kecerdasan rohani di dalam pikiran, perasaan dan budimu, maka pengetahuan dan ketrampilanmu akan disebut seimbang.

Sungguh keseimbangan diperlukan jika memasuki alas ketonggo, agar akal jasmani dipersiapkan agar tidak mengalami gejolak keterbatasan dengan kehidupan rohani. SukaSuka · Alas Ketonggo Ngawi ( Srigati ) Menyimpan Berjuta Misteri SRIGATI begitulah nama ini yang terkenal di kalangan masyarakat Ngawi daripada nama asli hutannya yaitu Alas Ketonggo.

Nama Srigati ini sebenarnya merupakan sebuah tempat dimana seseorang mencari kedamaian batin untuk mendapatkan pencerahan dari sang pencipta agar dapat menyelesaikan sebuah masalah atau sekedar mendekatkan diri kepada sang Kholiq melupakan sejenak masalah duniawi tersebut seorang Supranatural juga menjelaskan berbagai cerita dan tempat ghaib berupa jalan menuju sebuah kerajaan jin jelas bahwa Srigati merupakan tempat yang banyak memiliki misteri yang tidak bisa di ungkap dengan kekuatan manusia, karena hanya Allah SWT yang maha tahu.

Dan pada saat bulan Agustus tepatnya hari kemerdekaan banyak kalangan pelajar terutama Ekskul Pramuka mengadakan Perkemahan tingkat Kwarcab di Srigati. Agar anak didik lebih menghargai lingkungan dan alam tanpa meninggalkan sejarah.

Tersesat di Kampung Jin Alas Ketonggo sumber MCMNEWS Gerbang Alas Ketonggo Alas Ketonggo di Ngawi ini adalah salah satu obsesi untuk Dikunjungi. Entahlah saya begitu menyukai sesuatu tempat yang menyimpan mitos dan misteri. Dua bulan yang lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satunya, Alas Ketonggo atau Alas Srigati di Kab. Ngawi. Mungkin karena itulah, hampir semalaman mataku sulit terpejam membayangkan betapa asiknya perjalanan ke Alas Ketonggo, Paron, Ngawi, Jawa Timur.

Dan rencananya saya berangkat dengan dua teman yang sudah janjian sebelumnya. Adzan subuh berkumandang dari corong Musholla yang tak jauh dari rumah di mana saya tinggal di Tuban. Saya beranjak dari peraduan untuk mempersiapkan segala sesuatunya guna perjalanan nanti. Sekitar pukul 09.00 WIB, dua teman saya datang. Setelah sejenak berbincang sambil meyeruput kopi panas, kami pun langsung berangkat dengan mobil menuju lokasi. Estimasinya jarak tempuh ke Ngawi paling lama 4-5 jam perhitungannya pada lepas Asyar nanti kita sudah sampai lokasi. Pesarean Srigati Perjalanan melewati jalan-jalan kota dan jalan raya provinsi tidaklah terlalu istimewa. Namun memasuki pedesaan wilayah Padangan, Bojonegoro suasana mulai terasa istimewa.

Hawa lumayan sejuk memasuki anggota tubuhku yang dari Tuban menuju Ngawi sekaligus merangkap sopir. Di pinggir kanan kiri jalan, tampak rimbunnya hutan jati yang tertimpa cahaya senja. Baiklah, saya ceritakan sedikit mengenai tempat tujuan saya kali ini yakni Alas Ketonggo. Bagi siapa pun yang gemar akan wisata spiritual pasti sudah pernah mendengar nama Alas Ketonggo atau ada sebagian orang yang menyebutnya dengan alas Srigati.

Kawasan hutan yang memiliki pemandangan cukup indah ddan rindang ini ternyata menyimpang sejuta misteri penuh nuasa mistis. Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas kurang lebihnya 5000 meter persegi, yang berada lereng Gunung Lawu tepatnya di Desa Babadan, Kecamatan Paron Kabupaten Ngawi, dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari pusat kota Keripik ini kearah selatan Perjalanan dari Tuban ke Ngawi ini sebenarnya relative mudah, hanya beberapa ruas jalan di Kalitidu, Bojonegoro saja yang agak macet karena ada pengecoran jalan yang belum rampung. Ternyata benar perhitungan saya, kami baru sampai di gerbang Srigati atau Alas Ketonggo sekitar pukul 5 sore.

Meski sebelumnya kami sempat nyasar kurang lebih 20 KM kebablasen. Karena baru pertama kali, hal pertama yang saya lakukan adalah mengambil gambar disekitar lokasi. Setelah merasa cukup dengan mengambil gambar disekitar lokasi pintu masuk Alas Ketonggo dan melapor sama juru kunci perihal kedatangan kami. Kami melepas penat karena semenjak berangkat dari Tuban menuju ke Alas Ketonggo ini kami tanpa istirahat, sekaligus kami sempatkan untuk mengisi perut yang memang banyak warung di pintu masuk ini. Di Srigati atau Alas Ketonggo ini dari penuturan Pak Marji adalah konon kabarnya, tempat ini dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu oleh bala tentara Demak dibawah pimpinan Raden Patah. Disini, terdapat Pelenggahan Agung yang banyak dijadikan sebagai tempat bermeditasi bagi mereka yang ingin Ngalap berkah dalam usaha dan Lain-lain.

Masyarakat sekitar percaya bahwa Pelenggahan tersebut merupakan tempat dimana Raden Wijaya bertapa mencari petunjuk sebelum membangun kerajaan Majapahit. Di Srigati juga terdapat sebuah batu besar yang biasa di sebut “Watu Gede” atau Batu Besar, konon disinilah merupakan pintu gerbang kerajaan “Dunia Lain” yang ada disana. Selain itu disini ada sebuah tempat bertemunya dua muara sunga yang disebut “Kali Tempuk” yang sering digunakan untuk mandi bagi mereka yang mendalami ilmu kekebalan, agar awet muda, dan berbagai tujuan lainnya. Setelah menikmati mie rebus dan segelas kopi di warung waktu sudah menujukkan pukul 18.30. seperti petunjuk Pak Marji sang juru kunci adalah waktu yang tepat untuk mandi di kali tempuk atau dua aliran sungai yang bertemu Mudah saja menuju akses ke lokasi Kali Tempuk ini karena ada papan petunjuknya.

Sampai pada lokasi terlihat masih ada banyak ritual yang tapa berendam di kali ini sambil menyulut dupa/hio Karena menunggu terlalu lama peritual yang lain mentas, akhirnya saya putuskan untuk mandi juga dan tak berapa lama kemudian peritual lain selain kami bertiga sudah mentas dan naik.

Tinggal kami bertiga. Salah satu hal yang akan membuat hati merasa diselimuti hawa mistis di sini adalah ketika kita melihat orang-orang yang sedang melakukan ritual. Ada yang bertapa dipinggir kali, nyekar bunga di bawah pohon, bahkan ada yang rela tinggal di situ mengabdikan dirinya untuk terus bertapa di alas (hutan) ini.

Memasuki Palenggahan Agung yang nampak adalah kain putih sebagai simbol kesucian yang menambah hawa mistis di sini. Tak lebih dari sejam kami bertiga berendam di Kali Tempuk itu, selain karena banyak nyamuk juga lumayan dingin. Setelah mengobrol sejenak dan menikmati nuansa malam sungai yang terbalut mistis tadi kami bertiga pun beranjak naik untuk melewatkan malam di Palenggahan Agung.

Namun anehnya, perasaan saat akan menuju ke Kali Tempuk ini tidak ada jalan bercabang namun bengitu kami sampai ada jalan bercabang. Barangkali tadi kami kurang jeli, pikirku. Tapi hati kecilku sangat yakin kalau jalan setapak ini tunggal yang harusnya menikung kekiri kalau dari atas. Karena bingung, saya minta seorang temen yang paling depan untuk berhenti sejenak dan meminta pertimbangan pilih yang mana, kiri atau ke kanan. Karena dua teman sepakat yakin yang kiri ya sudah saya manut saja.

Tapi sejujurnya saya yakn arah yang kanan jalan menuju ke Palenggahan Agung. Beberapa menit perjalanan, saya mulai melihat keanehan yang tidak biasanya kami lewati barusan saat akan menuju ke Kali Tempuk.

Dmi arah depan ada kabut yang amat tebal, mungkin ini fenomena alam biasa. Jadi tidak ada alas an dengan kabut itu. Kira-kira semenit perjalanan kami menembus kabut tebal itu, akhirnya kabut mulai menipis.

Setelah itu, kami memasuki sebuah perkampungan yang amat asing bagiku. Mengapa, seingatku tak ada kampung selain deretan warung penyedia makanan dan minuman di Alas Ketonggo ini. Saya mulai tersadar kalau kami memang kesasar. “Kayaknya, kita salah jalan ya, Kang!” kata seorang temen yang paling depan yang lantas kemudian saya mengajak dua teman yang lain untuk berhenti berjalan.

“Wah, kalau begitu kita tanya saja ke orang-orang itu,” ujar temen saya yang lain. Ketika itu memng terlihat beberapa orang tengah berjalan searah dengan kami atau sebaliknya. Sangat aneh! “Sebentar dulu,, kita jalan saja dulu pelan-pelan. Coba perhatikan ada yang aneh nggak dengan suasana di kampung ini. Perasaanku mengatakan, kampung ini memang aneh.” Kataku setengah berbisik.

Kami berjalan pelan dan sesekali berhenti. Kami perhatikan kampung itu dengan hati yang kian tak menentu. Hal utama yang menarik perhatianku adalah ketika aku melihat banyak sekali jagung yang sudah dikupas dibiarkan begitu saja di pinggir jalan perkampungan. Beberapa orang laki-laki juga terlihat berdiri di depan pintu pagar rumahnya masing-masing.

Ada juga terlihat wanita-wanita yang menggendong anak-anaknya dengan kain batik. Saya lihat juga ada orang sedang membuat perapian di halaman rumahnya. Dari semua yang kami perhatikan itu, untuk sementara kami belum menyadari adanya keanehan dari orang-orang itu. “Kita berhenti saja kang di depan warung itu. Kita coba tanya saja jalan ke Palenggahan Agung!” pinta seorang temen sambil menunjuk keaarah sebuah kedai yang ada di pinggir jalan. Dan saya menyepakatinya. Ternyata pemilik warungnya adalah seorang wanita. Namun sebelum bertanya, saya bisikkan pada temen untuk membaca Bismillah… Sementara seorang teman berjalan kearah wanita pemilik warung itu dan sedang sibuk menyapu lantai warungnya barangkali menjelang tutup, pikir saya.

Saya memperhatikan warung kecil itu. Warung itu terlihat menjual berbagai kebutuhan hidup sehari-hari seperti sabun, odol, kue-kue kecil, aneka gorengan, beras, kopi sachet, sapu lidi, dll. Kemudian saya perhatikan wanita pemilik warung itu. Saya coba mengenali wajahnya. Tapi tak bisa. Rambutnya panjang terurai kira-kira sebatas punggung. Seolah mengerti kalau sedang saya perhatikan, dia hanya menunduk sambil tangannya terus menyapu-nyapu lantai ditempat yang sama. Saya lihat temen saya bertanya padanya.

Tapi anehnya wanita pemilik warung itu tidak terlihat mengangkat wajahnya. Dia seperti parasnya tidak diketahui oleh orang lain. Sesaat kemudian, temen saya yang bertanya itu kembali kearah kami berdua. “Gimana?” tanyaku. “Katanya, terus saja jalan. Nanti juga sampai!” jawab temenku. Dia lalu menggumam. “Perempuan itu aneh sekali. Dia mau bicara denganku, tapi mukanya menunduk terus”. “Aku juga lihat hal itu kok!” tanggapku. Lalu saya berinisiatif, “Sebentar ya. Aku mau beli gorengan dulu!”. Karena rasa penasaran, saya mencari alasan agar bisa mendekati wanita itu.

Ketika itu, spontan terlintas dalam pikiranku hendak membeli gorengan. Disamping untuk melihat lebih dekat si pemilik warung, setidaknya gorengan itu lumayan juga untuk pengganjal perut. “Assalamu’alaikum!” saya member salam padanya. Tanpa menjawab salamku, kali ini dia berhenti menyapu tapi tetap menundukkan wajahnya. Lalu katanya dengan ketus, “Ada apa lagi, Mas!” “Saya mau membeli pisang gorengnya, Bu!” jawabku.

Wanita itu diam sejenak, lalu jarinya menunjuk kearah plastik pembungkus, sambil katanya lagi. “Silahkan pilih saja…itu kantongnya!” Saya mengambil kantung plastic di dekat gorengan pisang itu. Laku saya masukkan 10 buah kedalamnya. “Sepuluh biji saja, Bu. Berapa harganya?” tanyaku. “Berapa saja, Mas”. Jawabnya datar.

Saya sebenarnya bingung, tapi cepat-cepat saya buang kebingunganku itu lalu merogoh kocekku. Saya ambil selembar 5 ribuan, dan ingin kuberikan langsung padanya. Tapi sebelum uang saya berikan, si pemilik warung berkata lagi, “Uangnya ditaruh di atas situ saja, Mas”.

Sambil menunjuk dagangan gorengannya. Kini perempuan itu berdiri di belakang tumpukan karung beras setinggi perutnya, dengan kepalanya terus menunduk. Saya taruh selembar uang 5 ribuan itu, lalu segera permisi pergi. Tak lupa saya ucapkan terima kasih pada wanita itu, meski dia tetap diam tak menjawab. Selepas dari warung tak sengaja saya lemparkan pandangan pada sekeliling.

Ketika saya perhatikan jalan, orang-orang yang tadi kami lewati, semua tidak kelihatan wajahnya alias kepala mereka semua tertunduk. Barulah kami menyadari keanehan yang tadi belum terpikirkan, yakni semua orang di kampung ini menundukkan kepalanya seolah menyembunyikan wajah mereka. Dan anehnya lagi, kami tidak merasa merinding atau takut meski kami sudah mengerti kalau sedang berada di dunia lain.

Akhirnya, kamipun melanjutkan jalan mengikuti jalan kecil. Sampai kemudian, kampung aneh itu terlewati dan kami bertemu jalan yang yang mengarah ke Kali Tempuk, dan benar kali ini tidak lagi bercabang alias jalan tunggal. Lega rasanya karena tampak di depan adalah deretan warung-warung meski sudah tutup. Setelah sampai pada Palenggahan Agung kami langsung ke mobil mengambil HP yang sengaja tidak kami bawa kecuali kamera digital saja untuk mengambil gambar di Kali Tempuk tersebut.

Keanehan kembali membuat kami saling berpandangan setelah tahu dari HP bahwa waktu sudah menujuk pukul 03.40 WIB. Semakin pening memikirkan kejadian yang aneh ini. Sambil duduk-duduk di pinggir mobil, seorang temen yang tadi kebagian membawa bungkusan pisang goreng yang saya beli di warung perempuan aneh itu yang di taruh di ranselnya. Anehnya, dia tidak menemukan plastic bungkusan pisang goreng tadi, yang ada hanyalah bungkusan daun jati.

Dia buka bungkusan itu, ternyata didalamnya ada 10 lembar daun kering dan selembar uang 5 ribuan yang tadi saya bayarkan di warung wanita yang aneh itu. Saya ceritakan pengalaman yang aneh itu kepada Pak Marji esok paginya, sang kuncen Alas Ketonggo. Dia mengeryitkan dahi, Pak Marji mengatakan.

“Kalian sudah tersesat di kampungJin, untungnya jin-jin di kampung itu tidak atau jarang mencelakai manusia, atau mungkin kalian masih bisa menjaga adab di Alas Ketonggo ini”. Kata Pak Marji setenggah bergumam.

Begitulah cerita tersesatnya kami di kampung jin Alas Ketonggo. Sampai akhirnya kami bertiga kembali dengan selamat. Dari kisah yang saya tulis kali ini, ada pelajaran yang bisa saya petik adalah, kemanapun pergi, jangan lupa berdzikir, agar selalu mendapat perlindungan Nya.

Jadi bukan masalah permisi atau tidak. Atau mungkin besarnya rasa penasaran kami, sehingga kami diberi petunjuk. Kisah CERITA DARI ALAS KETONGGO Wilayah Kabupaten Ngawi sebenarnya kaya akan potensi tempat wisata yang bisa diperdayakan. Satu di antaranya adalah Alas Ketonggo.

Tempat ini adalah hutan dengan luas 4.846 meter persegi, yang terletak 12 KM arah selatan dari Kota Ngawi, Jawa Timur. Menurut masyarakat Jawa, Alas Ketonggo ini merupakan salah satu dari alas angker atau ‘wingit’ di tanah Jawa. Kepercayaanya, di tempat ini terdapat kerajaan makhluk halus. Sedangkan satu hutan lainnya yang juga dianggap angker adalah Alas Purwa yang terletak di Banyuwangi, Jawa Timur.

Alas Purwa disebut sebagai Bapak, sedangkan Alas Ketonggo disebut sebagai Ibu. Kawasan Alas Ketonggo mempunyai tempat pertapaan, di antaranya Palenggahan Agung Srigati. Eyang Srigati adalah Priyagung, seorang begawan dari Benua Hindia yang datang ketanah jawa. Beliaulah yang menurunkan Kerajaan-kerajaan di Indonesia mulai dari Pajajaran, Majapahit, Mataram dan seterusnya. Semua kisah Spiritual tertuang di Punden Srigati yang terdapat di desa Babatan kec. Paron. Kab. Ngawi.

Hutan Ketonggo, demikian sebutan masyarakat Ngawi untuk hutan yang terletak 12 kilometer arah selatan Kota Ngawi itu. Meski sebetulnya sama dengan hutan-hutan lainnya, namun Ketonggo lebih kesohor dibanding hutan-hutan lain di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Apa yang membuat Ketonggo termasyhur? Sampai-sampai kesebelasan perserikatan Ngawi yakni Persatuan Sepak Bola Ngawi (Persinga), dijuluki “Laskar Ketonggo”? Lokasi Pesanggrahan Srigati yang terletak 12 km arah barat daya Kota Ngawi, tepatnya di Desa Babadan Kecamatan Paron, dapat ditempuh dengan berbagai macam kendaraan bermotor. Pesanggrahan Srigati merupakan obyek wisata spiritual yang menurut penduduk setempat adalah pusat keraton lelembut / makhluk halus.

Dilokasi ini terdapat petilasan Raja Brawijaya. Pada hari-hari tertentu seperti Jum’at Pon dan Jum’at Legi pada bulan Syuro, Pesanggrahan Srigati banyak dikunjungi oleh para pesiarah untuk menyaksikan diselenggarakannya upacara ritual tahunan “Ganti Langse” sekaligus melaksanakan tirakatan / semedi untuk ngalap berkah.

Orbitasi : Dengan ruas jalan Kabupaten Kecamatan Paron 6 Km Dengan ruas jalan Provinsi Km 6 ( Ngawi – Solo ) Dengan Kota Ngawi 12 Km Terdapat legenda seputar keberadaan alas Ketonggo. Konon tempat ini dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena kerajaan diserbu oleh bala tentara Demak dibawah pimpinan Raden Patah.

Dikisahkan, ditempat itulah dalam perjalananya ke Gunung Lawu, Prabu Brawijaya V melepas semua tanda kebesaran kerajaan (jubah, mahkota, dan semua benda Pusaka), namun kesemuanya raib atau mukso. Petilasan Prabu Brawijaya V ini ditemukan mantan Kepala Desa Babadan, Somo Darmojo (alm) tahun 1963 berupa gundukan tanah yang tumbuh setiap hari dan mengeras bagaikan batu karang.

Kemudian tahun 1974 didatangi Gusti Dorojatun IX yang menyatakan bahwa petilasan tersebut bagian dari sejarah Majapahit dan petilasan tersebut diberi nama Palenggahan Agung Srigati.

Palenggahan Agung Srigati ini terdapat berbagai benda-benda yang secara simbolik melambangkan kebesaran Kerajaan Majapahit, baik berupa mahkota raja, tombak pusaka, gong, dan lain-lainnya. Di dalam ruangan ini sangat pekat aroma dupa dan wangi bunga, hal yang sangat wajar kita temukan di sebuah tempat sakral. Dupa dan taburan bunga ini berasal dari para pengunjung. Mbah Marji (juru kunci) menerangkan bahwa ”Gundukan tanah tersebut biasanya terus tumbuh dan bertambah tinggi, tapi pada saat tertentu tidak tumbuh,” terangnya. Gundukan tanah tersebut bisa dipercaya dijadikan pertanda pada bumi Indonesia.

Keberadaan Pesanggrahan Srigati-sebuah obyek wisata spiritual di Ketonggo merupakan sebab utama kemasyhuran hutan seluas 4.846 meter persegi itu. Kepercayaan masyarakat yang menganggap Ketonggo sebagai pusat keraton lelembut atau makhluk halus, dikukuhkan dengan banyaknya tempat-tempat pertapaan yang mistik dan sakral. Menurut catatan, di Ketonggo terdapat lebih dari 10 tempat pertapaan.

Mulai dari Pesanggrahan Agung Srigati, Pundhen Watu Dhakon, Pundhen Tugu Mas, Umbul Jambe, Pundhen Siti Hinggil, Kali Tempur Sedalem, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sendang Mintowiji, Kori Gapit, dan Pesanggrahan Soekarno. Memasuki hutan Ketonggo, para tamu langsung dapat melihat Pesanggrahan Agung Srigati, berupa sebuah rumah kecil berukuran 4×3 meter.

Di dalamnya terdapat gundukan tanah, yang dari hari ke hari terus tumbuh, sehingga makin lama makin banyak. Dinding rumah itu dikitari bendera panjang Merah-Putih. Khas tempat sakral, Pesanggrahan Srigati pekat dengan bau dupa. Di sekitar tanah, yang terlindung atap rumah itu, juga berserakan bunga tabur yang selalu disebarkan para tamu.

“Seperti pada saat terjadi krisis moneter 1997, sebelumnya gundukan tanah tersebut tidak tumbuh, sehingga sama sekali tidak ada gundukan yang menyembul ke permukaan,” Mbah Marji mengisahkan sebelum terjadi semburan lumpur Lapindo Sidoarjo, dan gelombang Tsunami Aceh, gundukan tanah tersebut terlihat ‘cekung’, katanya, sembari mengungkapkan bahwa tanah itu selalu dibawa tamu yang bertapa di situ, sehingga selalu berkurang sedikit demi sedikit.

Pada hari-hari tertentu, seperti Jumat Pon dan Jumat Legi, serta pada bulan Suro dalam kalender Jawa, ribuan masyarakat Jawa maupun luar Jawa mendatangi tempat ini berbondong-bondong ke pesanggrahan ini untuk merenung, tirakat dan berdo’a pada Sang Khaliq.

Pada saat-saat yang dianggap keramat itu, warga berdoa dan bertapa untuk meminta berkah. Baik itu berkah karier atau jabatan, keselamatan, kesehatan, jodoh, dan sebagainya.Seperti pengakuan Iwan (38) warga Purwokerto, Jawa Tengah.

”Saya di sini sudah 4 bulan untuk merenung dan mencari petunjuk tentang jati diri ,” tuturnya.

Tak hanya di Srigati. Beberapa lokasi sakral lain di Ketonggo, juga diyakini dapat mengantarkan mereka menuju cita-cita yang diinginkan.

Misalnya, mandi di Kali Tempur Sedalem, sebuah sendang yang merupakan pertemuan dua sungai, dan sesudah itu memanjatkan doa di tugu di dekatnya, diyakini harapannya akan dapat terwujud. Adapun Pesanggrahan Soekarno, disebut demikian karena konon Presiden pertama RI Ir Soekarno pernah bertapa di tempat itu.

Dikisahkan, ada seseorang tak dikenal yang pernah membawa foto Bung Karno yang sedang bertapa di tempat berdirinya Pesanggrahan Soekarno sekarang ini. Orang itu membawa foto Bung Karno bertapa tersebut, tahun 1977.(SOLIHIN)

back-to-top