Detail

Pertumbuhan Handphone Melebihi Pertumbuhan Manusia Indonesia, Roy Suryo: Sayangnya Cuma Dipakai Chating-chatingan

Kamis, 4 Maret, 2021, 9:11 WIB
Penulis: Muh Ari

Pemerhati Multimedia & Telematika, Roy Suryo menyatakan bahwa pertumbuhan teknologi yang pesat saat ini harusnya disikapi bijak oleh generasi muda. Terutama meningkat pesatnya pertumbuhan penggunaan smartphone atau handphone.

Menurutnya, di Indonesia pertumbuhan penduduk di Indonesia sekarang itu 274,9 juta jiwa atau ada peningkatan 1,1% dibandingkan dengan tahun lalu.

Dan yang menarik, lanjut Roy Suryo, pertumbuhan handphonenya, meskipun handphone itu sudah jauh lebih banyak dari manusia nya, tetapi pertumbuhan handphone itu jauh lebih cepat dari pertumbuhan manusia, handphonenya pertumbuhannya 1,2% dibandingkan dengan tahun lalu.

“Sayang kalau Hp hanya digunakan untuk chatting saja, untuk posting-posting saja, ini lah era marketplace, era di mana bisa menjadi produsen sekaligus konsumen, bisa berkarya, bisa berkerja,” ujar Roy Suryo dalam diskusi seminar Zoom yang digelar BAKTI Kominfobertemakan “Pemanfaatan Internet Untuk Digitalisasi Ekonomi Kreatif”, Rabu (03/03.2021).

Menurut Roy, peningkatan pertumbuhan HP juga dibarengi dengan bertumbuhnya jumlah pengguna sosial media yang meningkat 6,3% beriringan pesat dengan pertumbuhan internet 15,5% melebihi jumlah penduduk Indonesia perkembangannya.

?Harus bisa memanfaatkan apa yang ada jualan melalui Instagram atau di Facebook, ini lah perkembangan mulai dari jualan di lapak pasar waktu itu sampai dengan era marketplace sekarang. Pelaku digital ekonomi kreatif harus bisa berjiwa “entrepreneurship”, penerapan kreativitas & inovasi, pakai computer, pakai handphone, pakai digital yang sudah maju tapi kalau tidak bisa kreatif dan inovatif sama saja,” jelasnya lagi.

Di tempat yang sama, anggota Komisi 1 Ahmad Rizki Sadig menambahkan bahwa situasi pandemi yang di alami ini sudah membuat terpaksa untuk menyesuaikan diri dengan keadaan. Namun sejatinya, ini adalah peluang yang besar.

Menurut Ahmad Rizki, situasi pandemi ini dengan lebih meningkatkan kemampuan di bidang penggunaan teknologi informasi digital itu akan bisa membuka peluang-peluang baru, tentunya lebih efisien, lebih bermanfaat, lebih bisa menghasilkan sesuatu, mungkin bisa menambah meningkatkan perekonomian di tingkat yang paling rendah untuk ditingkatkan rumah tangga.

“Hari ini kalau seandainya ingin berjualan mungkin sudah tidak lagi membutuhkan toko, tidak lagi membutuhkan karyawan, tidak lagi membutuhkan alat-alat iklan yang yang mungkin menguras biaya banyak, cukup menggunakan satu gadget yang ada di tangan atau mungkin satu komputer yang ada di rumah untuk menghubungkan seluruh pelanggan, siapa yang membutuhkan.”

Untuk itu, lanjut Ahmad Rizki Sadiq, para pelaku usaha harus beradaptasi dengan menguasai aplikasi-aplikasi yang mendukung tentang penggunaan teknologi informasi. “Dari toko, pabrik, sekarang juga harus mau tidak mau menyesuaikan diri dengan menghubungkan antara produsen dengan pembeli itu hanya melewati dunia teknologi komunikasi dan informasi,” jelas Anggota Fraksi PAN ini.

Di seminar yang sama, praktisi komunikasi Heidar Hasni menyampaikan bahwa di era digital pekerjaan sumber daya manusia yang kreatif itu justru akan lebih dibutuhkan di dunia digitalisasi ini, pekerjaan-pekerjaan apa yang nanti akan muncul atau akan dibutuhkan di era digital kedepannya

“Indonesia sebenarnya sudah masuk revolusi industri 4.0 ini memang sudah berdekatan atau bersinggungan dengan dunia digital tapi sebenarnya Super Smart Society itu belum kita raih, itu nanti akan muncul era namanya 5.0, itu sudah dicanangkan di Jepang tahun 2019 dan sekarang sudah tahun 2021, jadi itu sudah dicanangkan nya 3 tahun lalu artinya ini sebentar lagi semuanya akan serba digital, semuanya akan sudah harus mau tidak mau, siap gak siap, harus masuk ke dunia digital itu sendiri,” jelasnya.

Menurut dia, kelebihan dari digitalisasi itu sendiri, merupakan keunggulan nya adalah keutuhan data ketika proses transmisi, kalau di dunia analog atau di dunia manual sebelum digitalisasi ini, semua serba pakai kertas laporan pakai kertas.

“Kita bikin tanda tangan yang manual, semuanya pakai paper, semuanya harus tertulis di kertas, itu data rawan hilang, kalau kertas kan gampang kehilangan kertasnya, tulisannya salah, tapi kalau di dunia digital itu keutuhan data itu lebih dapat diminimalisir kehilangan data, dibandingkan manual, dibandingkan pakai kertas,” tutupnya.