Detail

Dua Mata Pisau Milenial dan Digital Menuju Indonesia Emas 2045

Monday, 15 March, 2021, 13:33 WIB
Penulis: Muh Ari

Pengembangan industri digital, dalam hal ini, teknologi dan informasi serta pendampingan kepada generasi milenial adalah syarat penting menujut target Indonesia Emas yang dicanangkan bakal dicapai pada 2045 mendatang.

Hal ini dikemukakan sejumlah pihak dalam diskusi BAKTI Kominfo melaksanakan seminar live straming bertemakan “Kontribusi Milenial Dalam Mendorong Kemajuan Indonesia di Era Perkembangan Teknologi dan Informasi”. Jumat (12/03/2021).

Dalam seminar tersebut, Anggota Komisi 1 DPR RI, Yuliandre Darwis menyatakan bahwa kontribusi milenial adalah sumber daya manusia dengan potensi yang luar biasa yang sangat diperlukan pada masa ini, di mana teknologi komunikasi menjadi yang terdepan.

Menurutnya ada dua karakter yang cukup menonjol dari karakter generasi milenial di era digital adalah saling terhubung dan seolah tak bisa dibatasi keberadaan internet.

“Dengan adanya wi-fi, laptop dan smartphone, memungkinkan mereka saling terhubung memiliki perspektif global inilah penggunaan internet di Indonesia, data menunjukan milenial yang paling tinggi.”

Yuliandre memamparkan, berdasarkan penelitian dari Ericsson ConsumerLab waktu yang lalu terkait tren konsumen sebutkan bahwa produk teknologi muncul akan banyak mengikuti perilaku gaya hidup milenial, bagaimana produk teknologi mengikuti gaya hidup millennial.

“Kaum milenial tidak bisa lepas dengan Youtube, Facebook, Spotify, Instagram, Tiktok dan sebagainya ini menjadi sesuatu fakta hari ini,” tegasnya.

Namun yang harus menjadi perhatian, lanjut dia, adalah keamanan daring justru semakin yang mengendur, data menyebutkan ada 20% generasi milenial yang senang berbagi kata sandi berpotensi mengorbankan keamanan daring mereka, karena terlalu terbuka

“Ada ancaman keamanan cyber yang siap menerkam para pengguna, aktivasi pelaku internet yang gampang tersulut emosi, baik emosi negatif maupun positif di internet, ini yang harus diperhatikan oleh milenial keamanan berselancar di internet,” jelasnya lagi.

Dalam kesempatan yang sama, Widya Setiabudi Sumadinata, Dekan FISIP Universitas Padjadjaran menyampaikan bahwa bonus demografi yang bakal dialami Indonesia  dengan mayoritas usia produktif pada Indonesia emas tahun 2045 ibarat pisau bermata dua.

“Satu sisi memang nanti akan jadi potensi, di sisi lain bisa jadi beban jika tidak diantisipasi. Persoalanya adalah bagaimana caranya menjadi bonus dan bukan beban, angkatan kerja yang berlimpah harus diiringi agar kualitas sumber daya manusianya bagus, kesehatannya bagus, pendidikannya bagus,” ujarnya.

Menurutnya, bonus demografi harus diimbangi dengan lapangan pekerjaan yang harus disediakan, lalu dengan jumlah anak yang sedikit akan memungkingkan memasuki pasar kerja lebih banyak, karena berkurangnya anak usia 0-15 tahun anak-anak, maka alokasi APBN bisa dialihkan, misalnya kalau dulu buat imunisasi sekarang digeser ke pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Bagaimana menyikapi bonus demografi agar tidak menjadi beban. Siapa yang akan berperan dalam bonus demografi, mereka adalah kaum generasi Y atau generasi millenial, bonus demografi pertama mulai 2017-2019 yang kedua sekarang ya 2020-2035 dan puncaknya 2028-2032.”

“Puncaknya, maka yang akan menjadi pemain utama pada saat Indonesia mencapai puncak bonus demografi itu adalah mereka yang lahirnya antara tahun 1980 -1995 mereka ini adalah generasi millenial atau generasi Y, generasi ini yang akan menjadi motor,” tutupnya.