Detail

Menyongsong Era Digital, Hati-hati Banjir Pengangguran Jika Tak Beradaptasi

Kamis, 17 Juni, 2021, 1:59 WIB
Penulis: Muh Ari

Perubahan zaman telah bergerak dari satu peran, ke peran yang lain. Mereka yang paling bisa bertahan lama itu adalah mereka yang pandai beradaptasi dengan perubahan, kalau tidak bisa mengikuti perkembangan maka akan terus tertinggal.

Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi 1 DPR RI, Helmy Faisal Zaini dalam webinar Kominfo RI bertemakan “Literasi Digital dan Tantangan Pemuda Di Era Society 5.0” yang diisi Dr. Ir. H. A. Helmy Faisal Zaini, Rabu (16/06/2021).

Helmy mencontohkan, pada transaksi bank, saat ini terjadi migrasi perpindahan dari transaksi konvensional. Hampir 90 persen masyarakat sudah enggan datang langsung ke bank. Lebih memilih untuk transaksi online.

“Mereka (perbankan) sudah harus melakukan penyesuaian. Sebab, bisa-bisa sumber daya manusia yang ada bakal menganggur. Harus mulai dipertimbangkan untuk optimalisasi peran-peran dari para staff  menangkap berbagai macam perkembangan zaman,” ujarnya.

Dirinya juga pernah berdiskusi dengan salah satu Direktur di Pegadaian BUMN. KepadaHelmy, sang direktur menyatakan bahwa para milenial saat ini menyimpan atau menabung emas tak lagi dengan fisiknya.

“Beda dengan kebanyakan emak-emak, kalau dulu emak-emak itu pasti mereka punya simpanan kalung emas, gelang emas, kalau sekarang anak milenial kalung atau gelangnya bukan lagi emas tapi dalam slot-slot emas dalam bentuk digital,” jelasnya.

 Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi Infotmasi wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Suaeb Quri bahwa era digital membuat tak ada batasan lintas generasi untuk sukses. Banyak anak muda hebat dan sukses karena mampu memanfaatkan perkembangan digital dan sosial media.

“Mereka (generasi milenial) yang sukses adalah yang mampu memanfaatkan potensi di dunia digital. Bisa menjadi penulis, YouTuber, ataupun pebisnis online,:” ujarnya.

Dirinya menjelasnya, pengguna sosial media di Nusa Tenggara Barat ini ada 5,4 juta. Diantaranya 2,7 juta pengguna sosial media seperti Youtube, Facebook dan Instagram.

“Berarti setengah dari penduduk di NTB ini saya bisa clusterkan, itu adik-adik yang SMP, SMA, Mahasiswa itu 50% dan 50% pengguna media sosial, sisanya itu cluster tua-muda, ibu, bapak atau pengusaha,” jelasnya.

 Di tempat yang sama, Rizki Ameliah, selaku Koordinatro Literasi Digital, Ditjen Aptika Kominfo menambahkan bahwa tingginya pengguna sosial media dari kalangan milenial, maka mereka dituntut untuk lebih hati-hati bersosial media.

”Jejak digital itu kejam, bahwa apa yang di posting di semua sosial media kita itu pasti akan abadi, jadi entah ada yang akan screenshot postingan-postingan kita ataupun instastory kita dan disebarluaskan, itu menjadi salah satu pertanda bahwa sebaiknya berhati-hati,” tutupnya.