Detail

Waspada Hoaks yang Sangat Merusak, Masyarakat Harus Punya Filter dalam Bersosial Media

Thursday, 11 March, 2021, 19:29 WIB
Penulis: Muh Ari

Anggota Komisi 1 DPR RI, Ahmad Rizki Sadiq menyatakan bahwa dibalik positifnya peran internet ada faktor krusial yaitu menyaring segala ingormasi yang masuk lewat digital. Pasalnya, mayoritas informasi yang masuh banyak yang tak dapat dipertanggungjawabkan dan dapat merusak sosial bernegara.

“Jangan hanya memanfaatkan teknologinya, tapi tidak tahu tentang regulasi-regulasi yang bisa menjadi sesuatu tidak menyenangkan, karena bisa saja terkena delik tentang undang-undang ITE,” ujarnya dalam diskusi webinar bertemakan “Bijak Bersosial Media dan Lawa Hoax di Masa Pandemi Covid-19”. Rabu (10/03/2021).

jangan sampai kemudian menjadi masalah, tanpa sadar melakukan sebuah aktivitas dengan menggunakan jaringan internet media sosial, tetapi dikatakan sebagai penyebar berita bohong,”

Menurutnya, dalam bersosial media, khususnya saat akan menyebarkan informasi, perlu dipastikan dulu hal tersebut terkonfirmasi. Apalagi saat informasi yang disebarkan soal kesalahan orang lain atau akan memperburuk situasi.

“Menyebarkan berita-berita yang punya niatan memperburuk situasi, dengan menyebarkan kekurangan orang, kesalahan orang yang belum tentu benar,” jelasnya lagi.

Pada kesempatan yang sama, Samsul Widodo, staf Ahli Hubungan Antara Lembaga Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggi dan Transmigrasi menyampaikan bahwa dampak “hoax ini memang memang cukup menakutkan kalau tidak segera ditangani.

Berdasarkan data, lanjut dia, pengguna internet itu sudah hampir 200 juta pengguna internet dan yang aktif di sosial media baik itu Facebook, Instagram, Twitter sebanyak 160 juta. Yang menggunakan Youtube itu sampai 140 juta di Indonesia, WhatsApp itu 134 juta dan ini pasti tubuh terus, kalau koneksi 3G ataupun 4G nya dapat pasti pakai WhatsApp, Facebook ini yang media sosial yang paling lama itu 130 juta, Instagram yang baru juga 126 juta.

“Jadi cukup besar, artinya bahwa hal-hal yang terkait dengan berita-berita hoax dan sebagainya itu sangat mudah terjadi, jangan sampai ikut menyebarkan berita-berita hoax, apalagi yang pengguna Whatsapp, pengguna Facebook, ternyata Facebook itu adalah tempat yang paling banyak menyebarkan hoax, sering menyajikan hoax, karena mungkin mudah, mudah akses internet dan Whatsapp itu nomor 2 berikutnya adalah YouTube,” jelasnya.

Ia meminta masyarakat agar berhati-hati saat membaca judul yang dianggap provokatif. Sehingga penting untuk memeriksa kebenaran sebuah informasi. “Ikut serta dalam grup diskusi anti hoax di media sosial itu juga bisa dan kalau bisa kirim ke Polisi atau Kominfo meminta di cek kebenarannya,” katanya.

Di seminar yang sama, tokoh pemuda Adhiwena Wirya Wiyudi menilai media sosial menjadi salah tempat untuk orang yang memiliki niat jahat. Diantaranya maraknya penipuan hingga hoaks.

“Kalau resiko dari adanya hoaks atau fake news, jadi hoaks ini ternyata bukan hanya meresahkan tapi sudah dalam tingkat berbahaya, karena dapat menimbulkan dampak yang lebih parah di masyarakat,” tutupnya.