Detail

Komisi 1 DPR RI: Siapapun yang Berdakwah Tanpa Sosial Media Maka Cuma Bakal Jadi Fosil Sejarah

Friday, 23 April, 2021, 21:42 WIB
Penulis: Muh Ari

Peran sosial media sudah harus diaplikasikan ke semua unsur, tak terkecuali dalam berdakwah. Anggota Komisi 1 DPR RI, Helmy Faishal menegaskan bahwa social media ini sebuah keniscayaan dan keharusan, termasuk dalam berdakwah bagi para pemuka agama maupun organisasi kemasyarakatan.

“Yang tidak menjadikan sosial media sebagai platform di dalam berdakwahnya, maka bersiap-siaplah menjadi fosil sejarah, bahkan berbagai macam survei telah menunjukkan lebih dari separuh penduduk Indonesia setiap tahunnya terus bertambah secara sangat signifikan, bahwa mereka semuanya ini sudah terhubung dengan gadget, jadi mulai dari bangun tidur sampai dengan kembali menjelang tidur,” ujarnya dalam diskusi streaming bertema ‘Berkah Ramadhan, Bijak Bersosial Media yang digelar Kominfo bersama DPR-RI, Jumat (23/04/2021).

Menurutnya, masyarakat saat ini sudah bersentuhan dengan gadget hampir sepanjang hari. Berdasarkan survei, lebih dari 6 jam dalam sehari bahkan lebih dari itu bisa 8-9 jam masyarakat menggunakan sosial media.

“Harus ada kontra narasi, kita juga harus menghadirkan narasi positif di tengah-tengah masyarakat, agar masyarakat tidak menjadikan informasi yang seperti itu hoax, fitnah sebagai suatu kebenaran, maka diperlukanlah literasi di dalam bermedia sosial, yang di harapkan ini hadir dari seluruh kalangan membangun sebuah kesadaran kolektif, bahwa tanggung jawab untuk membangun rasa positif di sosial media itu adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Taufik Damas, selaku pendakwah muda yang selama ini memang menyampaikan dakwahnya lewat sosial media menegaskan bahwa media sosial baik di Facebook, baik di Instagram ataupun juga di Twitter, bisa dibilang anugerah tapi juga anugerah itu kalau salah mengelola itu bisa jadi bencana.
“Seandainya tanpa ada media sosial pun orang itu boleh bicara melalui medium-medium seperti demonstrasi, bikin panggung bebas dan lain sebagainya, ditambah lagi ada media sosial ini sebetulnya sesuatu yang membuat orang itu lebih terbuka dan lebih berani.” jelasnya.

Lebih lanjut, berdakwah lewat sosial media dapat dan membaca pikiran orang dan wataknya. Karena bias jadi orang itu kalau bertemu terkesan pendiam namun sebaliknya di sosial media dia malah mampu terbuka dan lebih mudah menumpahkan isi pikirannya.

“Alhamdulillah sampai sekarang kita masih menjadi bangsa yang kokoh yang tidak ada konflik berdarah di antara anak bangsa ini, walaupun secara narasi masih berkembang di media sosial, kita harus melawan itu kalau ada narasi-narasi yang cenderung memecah belah bangsa harus kita lawan.”

Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Bambang Gunawan menambahkan bahwa sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar keempat di dunia, internet di Indonesia telah mencapai 202 juta orang atau 73% dari total 274 jumlah penduduk pada tahun 2020, kondisi ini bagai pisau bermata dua bagi pengguna internet di Indonesia terutama generasi milenial dengan rentang usia 20-34 tahun yang menjadi pengguna mayoritas internet.

Kondisi ini, lanjutnya, banyak informasi positif yang bisa diperoleh dari penggunaan internet di sisi lain internet terutama di media sosial dibanjiri informasi negatif tak terkecuali tentang hoax covid-19, vaksin, ujaran kebencian, provokasi, radikalisme, terorisme dan ekstrimisme.

“Maka generasi milenial harus berani mengambil sikap melawan informasi negative tersebut,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama Nirmala Firdaus selaku penggiat sosial media menyampaikan bahwa salah satu yang menjadi pekerjaan rumah bagi para peggiat sosial media adalah soal edukasi.

“Perlu namanya edukasi. Bagaimana ternyata sosial media dapat jadi alat mencari rezeki. Bagaiamana pakai sistem dropship, termasuk memanfaatkan TikTok dengan joget-joget, namun bukan sekedar lucu-lucuan tapi bisa pasang-pasang baju yang mau dijual,” tutupnya.