Detail

DPR RI: Tak Mampu Menyesuaikan Diri di Era Digital, Maka akan Bernasib seperti Dinosaurus

Sabtu, 12 Juni, 2021, 3:07 WIB
Penulis: Muh Ari

Pemanfaatan teknologi informasi adalah keniscayaan. Semua sector mulai dari pendidikan, bisnis hingga kegiatan sosial keseharian harus menyesuaikan dengan perkembangan digital. Jika masih gagap teknologi dan tak mampu beradaptasi maka akan tergerus dengan sendirinya.

Setidaknya hal ini yang disampaikan anggota Komisi I DPR RI, A. Rizki Sadiq dalam diskusi live streaming bertemakan “Pemanfaatan TIK Untuk Pendidikan dan Bisnis” yang digelar Bakti Kominfo pada Jumat (11/06/2021).

“Kalau tidak bisa menyesuaikan diri maka akan menjadi pribadi-pribadi akan bernasib seperti dinosaurus,” ujarnya.

Dalam dunia pendidikan, lanjut dua, sosial media dan platform digital adalah peluang besar untuk meningkatkan kemampuan anak didik.

Menurutnya, alat komunikasi digital ini bukan untuk sekedar gagah-gagahan, bahkan mungkin juga untuk menyebarkan berita-berita bohong atau mungkin juga untuk memperolok teman-temannya.”

“Para pelaku pendidikan dari guru ataupun pemilik-pemilik sekolah pun dituntut harus menyesuaikan dengan situasi di era digital. Tidak hanya belajar tentang masalah ilmu teori, tapi bagaimana berinteraksi dengan orang, memiliki teman dan kemudian menyelesaikan konflik antara teman,” jelasnya lagi.

Di dunia bisnis,dirinya mencontohkan, ketergantungan kepada alat transportasi online begitu besar, bahkan menganggap itulah yang paling mudah dan paling praktis, itu yang paling efisien dan itu yang paling aman.

“Hanya melalui gadget bisa meningkatkan kemampuan di bidang itu, bisa berbisnis tanpa harus punya toko, tanpa harus punya tenaga marketing, tanpa harus punya barang produksi hanya menghubungkan antara produsen dengan konsumen dan mencari jalan tengah untuk bisa membuka sebuah toko online yang itu sekarang lagi marak terjadi dimana-mana.”

Dalam seminar yang sama, tokoh pemuda Adhiwena Wirya Wiyudi menegaskan bahwa era pendidikan di dunia digital tidak sebatas di ruang kelas dan membuka peluang besar untuk masyarakat di pelosok memanfaatkan perkembangan digital untuk mengembangkan diri.

 Dirinya mencontohkan YouTubers Fiki Naki yang menguasai banyak Bahasa hanya belajar dari video YouTube.

“Fiki Naki, bahwa dia itu seorang Youtuber yang berawal dari daerah yang mempunyai kesuakan belajar bahasa, dari kesukaannya itu ternyata dia belajar bahasa dengan Youtube untuk belajara berbagai bahasa dan setelah itu dia memperakteka dengan orang Rusia,  Jerman, secara kebetulan viewers nya menjadi banyak dan memperoleh penghasilan dari situ,” jelasnya.

Dirinya juga mencontohkan kisahpemuda di Gempol di daerah Jawa Timur, dia salah satu pekerja yang terdampak dengan pandemi, dia seorang tour gaet di Bali, setelah pulang ke kota asalnya di Gempol dia belajar membuat kerajinan tangan, seperti hiasan atau aksesoris rumah namanya makrame yang berupa sulaman itu sampai di ekspor.

“Artinya ketika ada keinginan, ada niat cuma belajar dan dia memperoleh itu belajarnya dari YouTube, seperti bahan apa yang dipakai, bahan apa yang dipilih akhirnya dia bisa menghasilkan itu sampai bisa berjualan,” tutupnya.