Detail

Dampak Revolusi Digital, Bakal Ada 800 Juta Pekerjaan yang Hilang

Jumat, 19 Maret, 2021, 9:25 WIB
Penulis: Muh Ari

Penetrasi digital yang sudah menyeluruh berimbas pada sektor industri. Industri perdagangan online bakal terus tumbuh bahkan di era pandemic Covid-19 seperti saat ini, bahkan diprediksi bakal tumbuh menembus angka 65 miliar dollar AS atau setara dengan Rp940 triliun pada 2022 mendatang.


Hal ini diungkapkan oleh anggota Komisi 1 DPR RT, Alimin Abdullah. Menurutnya pada 2017 nilai perdagangan online Indonesia hanya 8 miliar dollar AS. Nilai ini meningkat menjadi 55 sampai 65 miliar dolar AS pada tahun 2022.


“Ini adalah manfaat pertumbuhan sebagai konsekuensi sudah lebih banyak lagi menggunakan IT ini di Indonesia, peningkatan penggunaan ini tidak hanya orang-orang tua, bahkan anak-anak, mulai dari tingkatan SD pun sekarang sudah harus mengenal itu, kalau tidak, ya tidak bisa sekolah,” ujarnya dalam seminar BAKTI Kominfo bertemakan “Tantangan dan Peluang Generasi Milenial di Era Digital”, Selasa (16/03/2021).


Tingginya pertumbuhan digital, lanjut dia, harus dimanfaatkan baik oleh pemerintah mengingat minusnya pertumbuhan ekonomi akibat dampak pandemic. Infrastruktur tentunya menjadi hal yang krusial.


“Negara harus memfasilitasi, masyarakat memanfaatkan dengan baik, menggunakan kesempatan ini dengan baik,” ujarnya lagi.


Dalam kesempatan yang sama, Yuliandre Darwis selaku Ketua Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menyampaikan bahwa infrastruktur dan cakupan sinyal sampai pelosok adalah keniscayaan yang harus terealisasi dengan cepat.


“Pertumbuhan cakupan sinyal ini luar biasa sampai 2022 akan membangun Base Trancaiver Station (BTS) hingga pelosok. Pemerintah membangun infrastruktur yang namanya dari Palapa ring, dari kabel laut, maupun kabel darat sehingga terkoneksi secara keseluruhan, koneksi ini menjadi kekuatan ketika infrastruktur sudah canggih, sudah banyak tower dan sebagainya,” jelas dia.

Namun hal yang harus diperhatikan lanjut Yuliandre, adalah bagaimana membuat generasi muda lebih produktif tidak hanya sebagai konsumen semata. Indonesia harus memiliki daya saing dan daya tawar yang tinggi, ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,

“Tugas besar bagi anak muda, untuk mengisi ruang-ruang ini, jangan sampai menjadi seorang konsumen atau pun menjadi penikmat, seolah hanya menonton saja. Oleh sebab itu fakta dan data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa saat ini, di Indonesia didominasi oleh generasi milenial yakni generasi yang lahir tahun 80-an sampai tahun 2000.”

“Menurut hasil tahun 2020 dari Badan Pusat Statistik (BPS) diperkirakan terdapat kurang lebih 64,50 juta jiwa Indonesia yang berada dalam kelompok umur pemuda, tidak dapat dipungkiri jika dengan 64,50 juta pemuda ini menghasilkan sebuah karya teknologi yang bisa dinarasikan, divisualkan, bisa dinikmati oleh seluruh dunia, oleh sebab itu sebagai ujung tombak pembangunan bangsa,” jelasnya lagi.

Dalam seminar yang sama, M. Hariman Bahtiar, M.Si selaku praktisi Sosial Media menyampaikan bahwa generasi muda sekarang bisa membuat strategi kedepan, perencanaan jangka panjang dengan melihat perkembangan revolusi industri, kalau dilihat dari revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemajuan dunia digital.


Menurutnya, berdasarkan studi McKinsey Global Institute memperkirakan 800 juta pekerjaan akan hilang di seluruh dunia dengan adanya otomatisasi tahun 2030.


“Bakal ada yang diwaspadai dengan transisi digital ini, yaitu bakal ada pekerjaan yang akan hilang misalnya pekerjaan data entry, payroll officer, production workers, machine operator, data collection.”

“Tapi jangan khawatir dibalik ancaman itu, nanti akan muncul pekerjaan baru yang justru malah potensial. Peluang ketika seiring perkembangan digital kemudian tumbuh ekonomi digital, pengusaha baru bisnis online, pendiri start-up. Pekerjaan baru yang potensial seperti youtuber, selebgram, app developer, content creator, blogger, desain grafis dan lain-lain,” tutupnya.