Detail

Ada 800 Ribu Situs Penyebar Hoax, Komisi I DPR RI Minta Masyarakat Jangan Terjebak

Rabu, 10 Maret, 2021, 8:16 WIB
Penulis: Muh Ari

Anggota Komisi 1 DPR RI, Ahmad Rizki Sadig menegaskan bahwa para pengguna social media harus bijak dan bertanggung jawab terhadap apa yang akan ditulis di media sosial dengan situasi yang begitu cepat, sehingga tidak bisa keserempet dengan aturan-aturan yang berhubungan dengan undang-undang ITE.

Tulisan di sosial media, ;lanjut dia, tentunya berawal dari informasi yang dicari dari mesin pencari Google yang tentunya juga harus valid. Karena memang jika mendapat informasi yang tak valid dampaknya cukup fatal.

“Penggunaan alat-alat komunikasi yang begitu canggih saat ini, membuat begitu mudah untuk mengabarkan berita-berita yang belum tentu di kroscek kebenarannya, sehingga bisa jadi diri sendiri menjadi bagian dari yang menyebarkan berita bohong, jadi ini juga harus hati-hati, ini,” ucapnya dalam seminar online BAKTI Kominfo, bertema “Bijak Bersosial Media dan Lawan Hoax di Masa Pandemi Covid-19”, Rabu (09/03/2021)

Menurutnya, saat ini Komisi I DPR RI sedang menggodok aturan membuat regulasi dan menyusun draf undang-undang perlindungan data pribadi.

“Masyarakat perlu belajar tentang aturan-aturannya, agar kemudian tidak dipersalahkan apabila ada sesuatu dalam penggunaan alat-alat komunikasi yang begitu canggih saat ini, membuat begitu mudah untuk mengabarkan berita-berita yang belum tentu di kroscek kebenarannya,”

Dalam kesempatan yang sama, Yuliandre Darwis, Ketua Dewan Pakar Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) menyampaikan bahwa penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7%, namun pemahaman literasi sangat rendah.

Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara dalam tingkat literasi yang paling rendah, permasalahan ini makin mengkhawatirkan karena belum meratanya kesempatan untuk mengakses bahan literasi dalam negeri.

?Ketika kondisi ini dengan 202 juta jiwa pemuda Indonesia, apa yang bisa di lakukan, tentu konsekuensi dari 202 juta jiwa ini yang terjadi adalah media sosial menjadi saluran penyebaran hoax terbesar,” ujarnya.

Penetrasi pembaca berita dan informasi, lanjutnya, didapat dari sosial media mencapai 92,4% yang padahal media sosial menjadi media penyebaran hoax yang paling tinggi, hoax sengaja dibuat untuk mempengaruhi opini public.

“Ada 800.000 situs penyebar hoax di Indonesia, itu bukan jumlah yang sedikit ini yang harus di hadapi dalam dunia transformasi digital.”